PEKANBARU, DURASI.co.id – Riau kembali menunjukkan keseriusannya dalam memperjuangkan status sebagai daerah istimewa. Pada Kamis (12/6/2025), Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) menjadi tempat berkumpulnya berbagai elemen Nahdlatul Ulama (NU) Riau yang menyatakan dukungan terhadap perjuangan Daerah Istimewa Riau (DIR). Dukungan diberikan bertahap oleh Pengurus Wilayah NU (PWNU) Riau, Muslimat NU, dan Gerakan Pemuda Ansor.
“Ini luar biasa. Kami terharu dan bangga. Terlebih karena mereka hadir dengan membawa dukungan tertulis,” ujar Ketua Badan Pekerja Perwujudan Daerah Istimewa Riau (BPP DIR) sekaligus Ketua Umum DPH LAMR, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil.
Turut hadir dalam pertemuan itu sejumlah tokoh LAMR dan BPP DIR, seperti Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat LAMR Datuk Seri Marjohan Yusuf, Datuk Tarlaili, Datuk Fadli, Datuk Kanarudin, Datuk Firman, Datuk Arman, dan Datuk Taufik Hidayat alias Atan Lasak.
Dari pihak NU Riau, hadir Ketua PWNU Riau Abdul Khalim Mahali, serta sejumlah pengurus lainnya, termasuk Mustasyar PWNU Mujissin Al-Madari, Syahpawi, Amri Fitri, Parluhutan, dan tokoh dari berbagai lembaga NU seperti Darmawan dari Lembaga Kajian Strategis dan SDM NU, Buya Fadli dari Lembaga Wakaf dan Pertanahan, serta Anifam Tanjung dan Joko Sugito dari LBH NU.
Ketua Lembaga Publikasi NU Slamet Riyadi, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana NU bersama sekretaris Chalied Tualeka dan Sudirman juga hadir, termasuk Griven Putra yang memimpin doa.
Ketua PWNU Riau, Abdul Khalim Mahali, menyebut 2025 sebagai “tahun keramat” bagi perjuangan mewujudkan Daerah Istimewa Riau. Ia merujuk pada pola historis angka lima, Yogyakarta pada 1950, Aceh pada 1959, dan pernyataan Gus Dur tentang Riau pada awal 2000-an.
“DIR harus selesai di 2025,” ujarnya.
Ia juga menegaskan besarnya kontribusi Riau terhadap NKRI, baik dari sisi budaya maupun ekonomi. Riau pernah menyumbang 13 juta gulden pada awal kemerdekaan, dan kini menyumbang sekitar 30 persen lifting minyak nasional.
PWNU Riau menyatakan dukungan penuh terhadap perjuangan ini. Seluruh badan otonom di bawah NU Riau, termasuk Muslimat NU, Fatayat, GP Ansor, Pergunu, dan Pagar Nusa, juga turut dilibatkan.
Dukungan dari Muslimat NU Riau disampaikan oleh Seri Wardani yang mewakili Ketua Muslimat NU Puan Dina. Dalam pertemuan tersebut, Seri menyampaikan rasa haru atas sambutan adat dan menegaskan kesiapan Muslimat NU untuk berjuang bersama mewujudkan DIR.
“Dukungan juga datang dari seluruh pengurus kabupaten/kota se-Riau,” ujarnya.
Beberapa kader Muslimat bahkan telah tergabung dalam struktur BPP DIR, menandakan keterlibatan langsung mereka dalam proses perjuangan ini.
Ketua PW Ansor Riau, Khairul Huda, menegaskan bahwa GP Ansor Riau mendukung penuh gagasan DIR. Menurutnya, NU dan Melayu adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan, dan Ansor siap bersinergi dengan LAMR serta elemen masyarakat lainnya.
“PAC Ansor se-Riau juga akan menyusul dengan dukungan tertulis,” ujarnya.
Datuk Seri Taufik Ikram Jamil memaparkan sejumlah landasan yang menguatkan perjuangan DIR. Di antaranya, keberadaan kerajaan-kerajaan Melayu yang masih eksis saat Indonesia merdeka, seperti Siak, Indragiri, Pelalawan, Gunung Sahilan, Lima Luhak Rohul, dan Andiko 44. Kerajaan-kerajaan ini dengan sukarela menyerahkan kedaulatan dan kekayaan mereka kepada Republik.
Riau juga disebut sebagai salah satu pusat peradaban Melayu dan bagian penting dari Kerajaan Sriwijaya, yang menyebarkan bahasa Melayu, cikal bakal bahasa Indonesia.
“Dalam UU Provinsi Riau Nomor 19 Tahun 2022 disebutkan bahwa karakteristik Riau adalah adat dan budaya Melayu. Ini menjadi garis pembeda yang menguatkan keistimewaan Riau,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa naskah akademik tentang DIR yang sedang disusun oleh BPP DIR akan segera rampung, melengkapi perjuangan dari sisi intelektual dan yuridis.
Ketua Umum MKA LAMR, Datuk Seri Marjohan Yusuf, menyebut dukungan dari NU Riau sebagai tambahan energi bagi perjuangan LAMR dan BPP DIR.
“Ini menunjukkan bahwa perjuangan ini adalah kehendak luhur masyarakat Riau. Ini hak kita, dan kalau tidak kita ambil sekarang, bisa hilang,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa dukungan masyarakat terus berdatangan setiap hari, menjadi penanda bahwa perjuangan ini bukanlah gerakan elite semata, melainkan aspirasi bersama lintas elemen. [Sukri]







