PEKANBARU, DURASI.co.id – Menjelang Hari Raya Idulfitri 2025, harga emas di Pekanbaru mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Harga emas perhiasan kini menyentuh Rp3,95 juta per emas, sementara emas Antam naik menjadi Rp1.765.000 per gram berdasarkan data terbaru per 24 Maret 2025.
Kenaikan harga ini diduga dipicu oleh meningkatnya permintaan masyarakat yang kerap membeli emas sebagai investasi atau kebutuhan perayaan Lebaran. Selain itu, fluktuasi nilai tukar rupiah turut memengaruhi harga emas di pasaran.
Meskipun harga terus merangkak naik, aktivitas jual beli emas di Pekanbaru tetap ramai. Banyak pembeli masih berdatangan, baik untuk membeli maupun menjual emas mereka. Namun, beberapa pedagang mengakui bahwa lonjakan harga sedikit berdampak pada daya beli masyarakat.
“Kenaikan harga emas menjelang Lebaran memang sudah biasa terjadi. Tapi tahun ini terasa lebih tinggi dari sebelumnya. Banyak pelanggan yang masih membeli, tapi ada juga yang memilih menunda pembelian karena harga sudah cukup mahal,” ujar Ahmad, seorang pedagang emas di Pekanbaru, Selasa (25/3/2025).
Sementara itu, seorang pembeli, Lina (35), mengaku tetap membeli emas meski harganya naik. “Setiap tahun saya menyisihkan uang untuk beli emas menjelang Lebaran, karena emas bisa jadi tabungan jangka panjang. Tapi sekarang harganya lumayan tinggi, jadi saya beli lebih sedikit dari biasanya,” katanya.
Sementara itu, Pimpinan Cabang PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) Pekanbaru, Liwan Thio, memperkirakan bahwa harga logam mulia masih berpotensi terus meningkat hingga akhir tahun 2025, bahkan bisa mencapai Rp2 juta per gram.
Menurutnya, kondisi ini terjadi karena investor semakin yakin berinvestasi pada logam mulia, mengingat nilainya yang stabil di pasaran dan cenderung mengalami kenaikan.
“Ekonomi saat ini memang mengalami tekanan di berbagai sektor, tetapi investasi emas justru menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Harga emas di pasar dunia saat ini sudah mencapai Rp1,7 juta per gram,” ujarnya.
Meski kenaikan harga emas turut berdampak pada peningkatan jumlah investor di RFB, Liwan mengakui bahwa pertumbuhannya belum terlalu signifikan.
“Biasanya, ketika harga emas naik, itu menjadi indikasi bahwa perekonomian sedang mengalami pelemahan. Salah satu indikator yang bisa kita lihat adalah pergerakan saham,” katanya.
Penulis: Sukri
Editor: Indra







