KENDAL, DURASI.co.id – Puluhan warga dari empat desa di Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah menggelar aksi unjuk rasa mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum (APH) segera menutup aktivitas stan crosser stockpile dan tambang galian C ilegal yang dinilai meresahkan masyarakat.
Aksi yang melibatkan warga dari Desa Bumiayu, Penyangkringan, Nawangsari, dan Sumberagung ini dipicu oleh keresahan atas lalu lalang kendaraan berat dan dampak negatif terhadap lingkungan serta kesehatan masyarakat.
Advokat muda yang juga dikenal sebagai pegiat lingkungan, Kuswanto SH angkat bicara menanggapi aksi tersebut. Ia meminta pemerintah Kabupaten Kendal dan APH segera mengambil langkah tegas.
“Saya memahami keresahan warga. Aktivitas ilegal seperti stockpile di Desa Bumiayu dan Galian C di Sumberagung harus segera dihentikan karena jelas berdampak pada lingkungan dan kesehatan masyarakat,” ujar Kuswanto kepada DURASI.co.id, Kamis (10/4/2025).
Menurut Kuswanto, pemerintah tidak boleh menunggu situasi menjadi viral baru kemudian bertindak. “Jangan tunggu viral dulu baru membuka mata. Warga sudah geram. Jalan rusak, berdebu, aktivitas warga terganggu. Jangan sampai ada korban lebih banyak baru diambil tindakan,” tegasnya.
Sebelumnya, pada Selasa (8/4/2025), perwakilan warga dari empat desa telah menyampaikan tuntutan secara langsung kepada Camat Weleri dalam sebuah musyawarah bersama.
Ketua RT 11 RW 4 Desa Bumiayu, Alex Susanto, yang merupakan salah satu warga terdampak, mengatakan bahwa masyarakat bersatu menuntut penutupan aktivitas stockpile tersebut.
“Kalau dalam dua atau paling lambat lima hari tidak ada tindak lanjut dari pemerintah, warga akan bergerak sendiri,” kata Alex saat ditemui di kediamannya, Rabu (9/4/2025).
Alex menambahkan bahwa dampak aktivitas tersebut sudah merusak rumah-rumah warga, menggangu perekonomian, dan bahkan menyebabkan sejumlah warga jatuh sakit akibat paparan debu.
“Silakan dicek sendiri, banyak rumah yang rusak karena getaran dari truk berat. Dagangan saya sampai tidak laku karena tertutup debu. Bahkan ada warga yang harus dirawat karena terkena ISPA,” tuturnya.
Penulis: Alwi Assagaf
Editor: Indra









