Harga Cabai Merah di Batam Meroket

Cabai merah dijajakan di pasar tradisional Batam. (Foto: Salvia-Durasi.co.id)

BATAM, DURASI.co.id – Pasokan cabai ke Batam terganggu total sejak Kamis (27/11/2025) akibat banjir dan longsor di sejumlah daerah sentra di Pulau Sumatera. Akibatnya, komoditas ini mengalami kelangkaan dan harga di pasaran meroket.

Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam, Wahyu Daryatin, mengatakan jalur distribusi dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh terputus sehingga pedagang kesulitan mendapatkan pasokan harian. Tiga wilayah itu selama ini menjadi pemasok utama cabai ke Batam.

“Pasokan asal Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh untuk saat ini terputus total. Bencana yang terjadi di wilayah itu juga memengaruhi hasil panen petani lokal. Akibatnya, pasokan ke Batam tidak ada,” kata Wahyu, Jumat (28/11/2025).

Baca Juga :  Kepala BP Batam Buka Turnamen Futsal PK NTT 2023

Dijelaskannya, cabai merupakan komoditas cepat rusak dengan waktu simpan hanya 3-5 hari, sehingga stok yang terbatas memaksa pedagang mendatangkan cabai setiap hari. Kondisi ini membuat lonjakan harga sulit dihindari.

“Survei sementara Disperindag menunjukkan cabai rawit dijual Rp75 ribu per kilogram, cabai besar merah atau cabai setan Rp120 ribu–Rp150 ribu per kilogram, sedangkan cabai merah keriting naik menjadi Rp75 ribu per kilogram. Cabai hijau relatif lebih stabil di Rp45 ribu per kilogram, tetapi tetap meningkat dibanding sebelum bencana,” jelasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sekitar 15-20 ton cabai per hari, pedagang mencari alternatif pasokan dari luar Sumatera, termasuk Mataram, Yogyakarta, dan Surabaya. Namun, pasokan dari dua kota terakhir membutuhkan transportasi udara sehingga biaya logistik lebih tinggi.

Baca Juga :  Polsek Lubuk Baja Ringkus Pelaku Pengeroyokan

“Yang terpenting saat ini adalah rantai pasokan tetap ada. Selama suplai berjalan, kenaikan harga tidak akan terlalu jauh dari kondisi saat ini,” ujar Wahyu.

Sementara itu, stok telur ayam di Batam masih aman karena memiliki daya simpan lebih lama dan tidak terdampak langsung oleh terputusnya distribusi dari Sumatera.

Disperindag terus berkoordinasi dengan distributor dan pedagang serta meminta laporan harian untuk memetakan kebutuhan dan menentukan langkah antisipasi hingga pasokan cabai kembali normal.

“Kami belum mengetahui kapan pasokan akan kembali normal. Bencana yang terjadi di Sumatera masih berlangsung, sehingga kami terus mencari alternatif,” ucapnya.

Penulis: Salvia
Editor: Indra