DHARMASRAYA, DURASI.co.id – Pemerintah Kabupaten Dharmasraya kembali menggelar Bazar Pasar Murah Jilid III sebagai upaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok sekaligus membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau.
Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada Jumat (5/6/2026) mulai pukul 08.00 WIB di halaman Kantor Camat Sungai Rumbai. Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, dijadwalkan hadir langsung untuk meninjau pelaksanaan pasar murah dan menyapa warga yang mengikuti kegiatan tersebut.
Ajakan kepada masyarakat untuk memanfaatkan pasar murah juga telah disebarluaskan melalui akun media sosial resmi Kecamatan Sungai Rumbai dan Nagari Sungai Rumbai Timur.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (Kumperindag) Dharmasraya Alfiandri, mengatakan pelaksanaan pasar murah ini merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah pusat dalam pengendalian inflasi daerah. Pemerintah Kabupaten Dharmasraya menilai intervensi pasar diperlukan untuk menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok serta memperkuat daya beli masyarakat.
“Untuk mendukung program tersebut, Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (Kumperindag) Kabupaten Dharmasraya bekerja sama dengan Bank Indonesia, Perum Bulog, dan Bank Nagari. Kolaborasi ini diharapkan dapat memastikan ketersediaan bahan pangan sekaligus membantu menekan gejolak harga di tengah masyarakat,” katanya, Selasa (2/6/2026).
Dalam kegiatan pasar murah tersebut, pemerintah menyediakan sejumlah komoditas kebutuhan pokok dengan harga bersubsidi. Beras SPHP kemasan 5 kilogram dijual seharga Rp60.000, telur ayam Rp45.000 per tray, Gula Pasir Rose Brand Rp15.000 per kilogram, serta Minyakita Rp12.000 per liter.
“Program ini ditujukan untuk membantu masyarakat Kecamatan Sungai Rumbai, Sungai Rumbai Timur, dan wilayah sekitarnya mendapatkan bahan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau,” sebutnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk datang lebih awal. Antusiasme warga pada pelaksanaan pasar murah sebelumnya di Koto Baru dan Pulau Punjung cukup tinggi, sehingga kuota komoditas bersubsidi yang tersedia diperkirakan kembali cepat habis. [Sonia Chaniago]








