DCL 2026 Ditarget Jadi Ikon Olahraga Dharmasraya, Wasit Diminta Objektif

Sekda Dharmasraya Medison berfoto bersama para wasit yang akan bertugas pada ajang DCL 2026. (Ist)

DHARMASRAYA, DURASI.co.id – Menjelang dimulainya kompetisi sepak bola Dharmasraya Champions League (DCL) 2026, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya memastikan kesiapan seluruh perangkat pertandingan, khususnya para wasit yang akan memimpin jalannya laga.

Sebanyak 36 wasit yang telah dipersiapkan untuk mengawal kompetisi mengikuti briefing akhir di Sport Center Dharmasraya. Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Dharmasraya, Medison, yang menyampaikan arahan sekaligus pesan khusus dari Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, dan Wakil Bupati Leli Arni.

Dalam kesempatan itu, Medison menegaskan pentingnya menjaga integritas dan profesionalisme selama kompetisi berlangsung. Menurutnya, turnamen yang menjadi salah satu program unggulan pemerintah daerah tersebut akan menjadi sorotan masyarakat sehingga seluruh keputusan di lapangan harus berlandaskan aturan dan semangat sportivitas.

“Kami membawa amanah langsung dari Ibu Bupati. Beliau menekankan agar seluruh korps baju hitam yang bertugas mampu memimpin jalannya laga secara objektif. Setiap keputusan di lapangan wajib tegak lurus pada aturan baku sepak bola dan sportivitas,” ujar Medison, Sabtu (6/6/2026).

Baca Juga :  Safari Ramadan di Dharmasraya, Bupati Annisa Sampaikan Aspirasi Infrastruktur ke Pemprov Sumbar

Ia menilai peran wasit menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan penyelenggaraan DCL 2026. Karena itu, integritas perangkat pertandingan harus terus dijaga agar kompetisi mendapat kepercayaan dan dukungan masyarakat.

“Ribuan pasang mata akan menyaksikan langsung di stadion. Oleh karena itu, integritas dari para wasit adalah kunci utama agar turnamen ini mendapat tempat di hati masyarakat,” katanya.

Medison juga menyampaikan harapan besar pemerintah daerah terhadap penyelenggaraan DCL edisi perdana. Ia optimistis kompetisi tersebut dapat menjadi fondasi bagi pengembangan olahraga sepak bola di Dharmasraya dan berkembang menjadi agenda tahunan.

“Ini adalah langkah awal, fondasi sejarah kita bersama. Kami ingin memastikan tidak ada rapor merah atau kendala besar, terutama dari sisi kepemimpinan wasit. Sukses kepanitiaan harus berbanding lurus dengan sukses perwasitan. Jika musim ini berjalan mulus, DCL diproyeksikan tumbuh menjadi ikon event olahraga tahunan kebanggaan Kabupaten Dharmasraya,” ucapnya.

Baca Juga :  Bupati Annisa Ajak Masyarakat Salat Idulfitri di Masjid Agung Dharmasraya

Selain itu, Medison meminta para wasit tidak segan berkoordinasi dengan panitia maupun pemerintah daerah apabila menemui kendala selama pertandingan berlangsung.

“Kami percaya penuh pada jam terbang rekan-rekan. Namun, jika ada persoalan di lapangan, segera laporkan ke kami,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Bidang Perwasitan Askab PSSI Dharmasraya, Septa Saiman, memastikan seluruh wasit yang ditugaskan telah melalui proses seleksi dan memiliki pengalaman memimpin berbagai kompetisi.

Ia menjelaskan, dari total 36 wasit yang disiapkan, dua orang mengantongi lisensi C1 Nasional, 10 wasit berlisensi C2, dan sisanya memiliki lisensi C3.

“Kami datang dengan jaminan netralitas mutlak. Dari total 36 wasit yang disiagakan, ada 2 personel yang mengantongi lisensi C1 Nasional, 10 orang berlisensi C2, dan sisanya memegang lisensi C3. Rekam jejak mereka sudah teruji memimpin ketatnya laga di Liga 2, Liga 3, Liga 4, hingga turnamen tarkam bergengsi,” ujar Septa.

Baca Juga :  Bupati dan Forkopimda Sambut Kunjungan Kapolda Sumbar di Mapolres Dharmasraya

Untuk menjaga independensi, Askab PSSI Dharmasraya menerapkan kebijakan penugasan yang menghindari keterkaitan wilayah maupun kedekatan emosional antara wasit dan tim yang bertanding.

“Kami menggaransi tidak ada wasit yang memiliki kedekatan emosional maupun kesamaan wilayah dengan tim yang sedang bertanding. Sebelum peluit kick-off ditiup, semua perangkat pertandingan juga dipastikan berada dalam kondisi fisik, kesehatan, dan mental yang prima,” tuturnya. [Sonia Chaniago]