BENGKALIS, DURASI.co.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghanguskan sekitar 81 hektare lahan gambut di Desa Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, resmi dinyatakan padam total pada Kamis (23/7/2026) sore.
Berakhirnya kebakaran tersebut sekaligus menandai selesainya operasi pemadaman yang berlangsung selama lebih dari sepekan. Penanganan dilakukan oleh personel Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera bersama berbagai unsur terkait.
Tahap akhir pemadaman dilakukan melalui kegiatan mopping up oleh tim Manggala Agni Daops Dumai. Kegiatan ini bertujuan memastikan tidak ada lagi sisa bara api yang masih tersembunyi di dalam lapisan gambut.
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan operasi tersebut. Ia juga mengapresiasi kerja keras seluruh personel yang terlibat selama proses pemadaman.
“Puji syukur Alhamdulillah, proses pemadaman di Pematang Pudu sore ini dinyatakan padam total. Terima kasih atas segala doa dan semangat. Seluruh tim Manggala Agni dalam kondisi sehat dan selamat pulang ke markas masing-masing,” ujar Ferdian, Kamis malam.
Menurut Ferdian, sebelum operasi dinyatakan selesai, tim Manggala Agni Daops Dumai terlebih dahulu memastikan seluruh titik yang sebelumnya masih menyisakan bara telah dilakukan pendinginan.
“Mopping up terakhir dilakukan oleh tim Manggala Agni Daops Dumai. Alhamdulillah seluruh rangkaian operasi telah selesai dengan baik,” katanya.
Selama proses pemadaman, petugas menghadapi sejumlah tantangan, terutama kondisi lahan gambut yang membuat api sulit dikendalikan karena bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah.
Selain itu, musim kemarau juga menyebabkan keterbatasan sumber air di sejumlah titik. Petugas bahkan harus memanfaatkan kanal-kanal kecil dengan debit air yang terus menyusut untuk membantu proses penyiraman.
Meski menghadapi berbagai kendala, kerja keras personel di lapangan, dukungan water bombing dari udara, serta hujan yang turun pada Kamis dini hari turut membantu mempercepat proses pendinginan hingga seluruh titik api berhasil dipadamkan.
Keberhasilan pemadaman karhutla tersebut juga mendapat respons positif dari masyarakat sekitar. Warga turut memberikan dukungan kepada para petugas yang berjibaku siang dan malam dalam kondisi panas dan penuh asap.
Salah seorang warga Pematang Pudu, Harianja, bahkan menuliskan puisi berjudul Jejak Langkah di Bawah Asap sebagai bentuk apresiasi kepada personel Manggala Agni yang berjuang memadamkan api.
Dalam puisinya, Harianja menggambarkan perjuangan para petugas yang tanpa kenal lelah menghadapi kebakaran demi menjaga hutan dan lingkungan.
“Terima kasih atas peluh yang tumpah di tanah gambut, atas jiwa yang tabah walau maut di depan mengintai. Api boleh padam, tapi juangmu tetap membara, dalam setiap pohon yang selamat, dalam setiap napas bumi yang lega,” demikian penggalan puisi tersebut.
Bagi Manggala Agni, keberhasilan pemadaman karhutla di Pematang Pudu bukan hanya tentang menghentikan kobaran api, tetapi juga menjadi bukti pentingnya kolaborasi antara petugas, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Setelah delapan hari melakukan penanganan di lokasi, seluruh personel Manggala Agni kembali ke markas masing-masing dalam kondisi sehat. Kawasan Pematang Pudu kini telah terbebas dari kepulan asap, dengan harapan kejadian serupa tidak kembali terulang. [Fadil]







