Pastikan Kebutuhan Air Warga Tak Terganggu, Data Center Batam Bakal Bangun SWRO hingga 1.000 Liter per Detik

Redaksi Durasi
Kepala BP Batam Amsakar Achmad. (Foto: Dok BP Batam)

BATAM, DURASI.co.id – Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Amsakar Achmad mendorong pembangunan instalasi teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau desalinasi air laut untuk menunjang kebutuhan dasar di kawasan industri pusat data, khususnya Kabil dan KEK Nongsa.

Kebijakan tersebut sejalan dengan komitmen pemenuhan kebutuhan air dalam investasi pusat data di Batam yang harus berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Artinya, pemenuhan kebutuhan air bagi pusat data akan dilakukan melalui pembangunan SWRO secara mandiri tanpa mengganggu suplai air waduk bagi masyarakat Kota Batam.

Dari 10 rencana pengembangan pusat data ke depan, satu di antaranya telah beroperasi dan menyambut baik harapan pemerintah untuk pembangunan SWRO secara mandiri. Hal tersebut akan diikuti pusat data lainnya yang juga akan mengembangkan skema serupa.

Baca Juga :  PT PLN Batam dan Tamarin Teken MoU, Siap Pasok Listrik untuk Data Center KEK Nongsa

Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan setiap investasi pusat data wajib membangun instalasi SWRO untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya.

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya BP Batam memastikan pertumbuhan industri tidak berjalan sendiri, tetapi turut memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat.

Menurutnya, kebutuhan air bagi industri tidak boleh sepenuhnya menambah beban terhadap sumber air baku yang selama ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Batam.

“Kita ingin investasi tumbuh, tetapi kebutuhan pendukungnya juga harus dipikirkan. Karena itu, untuk industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar, kita dorong bagaimana mereka memiliki sumber air sendiri melalui teknologi SWRO,” katanya di Batam Centre, Rabu (23/9/2026).

Dalam dua hingga tiga tahun mendatang, Batam diproyeksikan mengalami peningkatan kapasitas produksi air melalui SWRO sebanyak sekitar 750 liter per detik pada tahap awal dan terus meningkat hingga sekitar 1.000 liter per detik pada tahap berikutnya melalui pembangunan SWRO di dua kawasan, yaitu KEK Nongsa dan kawasan industri Kabil.

Baca Juga :  Wakajati Kepri Ikuti Vidcon Halo RB Bersama Biro Perencanaan Kejagung

“Ini betul-betul komplementer, saling melengkapi antara kebijakan kita dengan kepentingan pelaku usaha, tanpa mengganggu kapasitas produksi waduk untuk masyarakat ke depan,” ujarnya.

Keberadaan instalasi SWRO nantinya diharapkan tidak hanya memberikan manfaat untuk kebutuhan industri. Investasi ini juga membuka peluang dalam menjaga ketahanan air bersih bagi kebutuhan rumah tangga.

Apabila kapasitas air hasil pengolahan nantinya melebihi kebutuhan operasional pusat data, kelebihan kapasitas tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat.

Namun, pemanfaatannya tetap akan memperhatikan beberapa aspek, antara lain kapasitas produksi, kualitas air hasil pengolahan, dan kesiapan jaringan distribusi.

Amsakar berharap pendekatan tersebut dapat menjadi upaya strategis dalam mencari sumber air baru seiring meningkatnya kebutuhan Batam sebagai kawasan investasi dan perkotaan.

Baca Juga :  Korbankan Regulasi, Barang Konsumsi dari Batam Diduga Kembali Masuk ke Karimun

“Jadi, bukan hanya industrinya yang kita pikirkan. Kita juga melihat bagaimana investasi ini bisa memberikan manfaat yang lebih luas. Kalau kapasitasnya memungkinkan dan infrastrukturnya siap, tentu ada peluang untuk dimanfaatkan bagi masyarakat,” ujarnya.

Keberadaan pusat data merupakan salah satu sektor strategis untuk memperkuat struktur ekonomi Batam di masa depan. Kehadirannya diharapkan memicu pertumbuhan sektor konstruksi, tenaga kerja profesional, dan sektor pendukung lainnya yang dapat memberikan efek berganda bagi ekonomi lokal. [dr]