Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wasbang, Salomo TR Pardede: Medan Miniatur Indonesia

Redaksi Durasi
Anggota DPRD Medan Salomo TR Pardede memberikan pembinaan ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan kepada masyarakat di Pesantren Allahu Ahad, Kompleks IDI, Kuala Bekala, Sabtu (26/9/26).

MEDAN, DURASI.co.id – Anggota DPRD Kota Medan Salomo TR Pardede mengatakan Kota Medan adalah miniatur Indonesia.

Di kota ini tidak sulit untuk menemukan warga negara Indonesia dari berbagai provinsi. Hampir semua suku bangsa dari seluruh provinsi di Indonesia ada di sini. Bukan itu saja, suku keturunan Tionghoa, India, maupun keturunan lainnya dengan mudah bisa ditemukan di Kota Medan.

“Mau cari suku apa saja gampang di Medan karena kita semua bisa hidup rukun berdampingan,” kata Salomo saat melakukan kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (Wasbang) di Pesantren Allahu Ahad, Kompleks IDI, Kuala Bekala, Medan, Sabtu (26/9/2026).

Dikatakannya, kerukunan tersebut merupakan manifestasi dari nilai-nilai Pancasila dan budaya leluhur yang diterapkan oleh warga Kota Medan.

Untuk itu, dia berharap warga yang hadir dapat terus menerapkan nilai-nilai tersebut agar Kota Medan tetap hidup dalam kerukunan tanpa membeda-bedakan suku maupun agama.

Baca Juga :  Satria Mandala Putra Terpilih Pimpin DPC PDIP Kuansing 2025-2030

Sementara itu, narasumber Eka Prahadian Abdurahman dalam paparannya menyebutkan, Medan dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat kemajemukan tertinggi di Indonesia.

“Ini adalah identitas kita. Melting pot Nusantara, yakni pertemuan harmonis etnis Melayu, Batak, Jawa, Tionghoa, Minang, India, dan lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, toleransi beragama terlihat dari tempat ibadah yang berdiri berdampingan, menandakan kedewasaan masyarakat dalam menyikapi perbedaan iman.

“Kekuatan budaya terlihat dari akulturasi kuliner, bahasa, dan seni yang menjadikan Kota Medan kaya akan nilai historis dan sosial,” katanya.

Eka mengatakan, keberagaman memerlukan jembatan komunikasi yang kuat agar tidak menjadi bibit perpecahan sosial.

Rasa kebangsaan merupakan perasaan cinta tanah air yang lahir dari sanubari dengan menganggap keberagaman di Medan sebagai karunia Tuhan yang harus dijaga dengan penuh rasa syukur.

Baca Juga :  Komitmen H Muhammad Rudi Naikkan Standar Ekonomi Provinsi Kepri

“Di tengah dinamika dan laju urbanisasi kota besar seperti Medan, sentimen kedaerahan atau eksklusivitas kelompok bisa saja muncul. Wawasan kebangsaan hadir sebagai jangkar moral,” katanya.

Menurutnya, wawasan kebangsaan dapat mencegah terjadinya konflik sosial, membangun empati antartetangga, serta memastikan setiap kelompok, baik mayoritas maupun minoritas, merasa memiliki “rumah” yang sama, aman, dan nyaman di kota ini.

“Pancasila sebagai dasar hidup bangsa Indonesia dapat kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Eka.

Dia mengatakan, implementasi sila pertama adalah toleransi beragama, yakni menghormati hari besar agama lain dan menjaga kerukunan antarumat beragama.

Implementasi sila kedua adalah solidaritas kemanusiaan, yaitu saling membantu warga yang ditimpa musibah tanpa memandang suku atau agama mereka.

Implementasi sila ketiga adalah gotong royong, yakni merawat fasilitas umum bersama, melaksanakan siskamling, dan melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan.

Baca Juga :  Rico Waas Tegaskan Optimalisasi PAD Medan Tanpa Kenaikan Tarif Pajak

Sila keempat adalah musyawarah mufakat, yaitu menyelesaikan perbedaan pendapat antarkelompok melalui dialog terbuka serta berpartisipasi aktif dalam forum rembuk warga atau musrenbang tingkat kelurahan.

“Implementasi sila kelima adalah keadilan sosial, yakni mendukung akses yang setara dan adil terhadap pelayanan publik, seperti pendidikan dan program kesehatan terpadu (Posyandu), bagi seluruh elemen masyarakat Medan,” katanya.

Masyarakat yang hadir tampak sangat antusias mengikuti acara tersebut.

Pimpinan Ponpes Allahu Ahad, Firman Waruwu, dalam sambutannya mengatakan sangat senang dengan diadakannya acara tersebut.

Firman menyebutkan, pemahaman tentang Pancasila dan wawasan kebangsaan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Dia juga meminta kepada Salomo agar jika ada kegiatan lain yang menyangkut kemasyarakatan, Ponpes Allahu Ahad siap menerima. [Nababan]