PEKANBARU, DURASI.co.id – Masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing) yang berdomisili di Pekanbaru menyambut dengan antusias bazar tambual yang digelar oleh Ikatan Mondek Mondek Kuansing (IMMK) di Halaman Gedung Wanita, Jalan Diponegoro Pekanbaru, Sabtu (15/3/2025).
Acara yang menjadi ajang nostalgia bagi warga Kuansing yang merindukan kuliner khas kampung halaman ini berlangsung selama tiga hari, dari 14 hingga 16 Maret 2025, mulai pukul 14.00 hingga 18.00 WIB.
Pantauan di lokasi, bazar ini menghadirkan beragam hidangan tradisional khas Kuansing yang semakin jarang ditemukan di pasar umum, seperti pariuak boruak, puluik kucuang, srikayo baumah, sarang panyongek, kolak mie, gulai cipuik, gulai cabodak hitam, otun udang, otun patin, otun ayam, limpik, sambal kambili, rendang pawal, kue talam, kue sampan, wajik, galamai dan karupuak sagu. Selain kuliner, acara ini juga menawarkan produk batik Kuansing
Ketua IMMK, Rahmita Lutfi, menjelaskan bahwa bazar ini telah menjadi agenda tahunan sejak IMMK berdiri pada tahun 2022.
“Bazar tahun ini merupakan yang kedua, dan kami sangat antusias memperkenalkan kekayaan kuliner Kuansing kepada masyarakat Pekanbaru. Pengenalan makanan ini penting agar masyarakat bisa mencoba dan mengetahui bahwa makanan khas kita masih ada, meskipun kini mulai jarang ditemukan di pasar umum,” ujar Rahmita.
Rahmita berharap bazar ini dapat menjadi peluang untuk menghidupkan kembali usaha-usaha mikro di bidang kuliner khas Kuansing serta mendorong masyarakat untuk lebih mencintai makanan tradisional mereka.
“Tambual Kuansing ini hampir ditinggalkan, tetapi sekarang naik kelas. Ini adalah mimpi IMMK dalam upaya melestarikan budaya Kuansing,” ucapnya.
Antusiasme masyarakat Kuansing terlihat dari banyaknya pengunjung yang datang, baik yang sekadar ingin menikmati makanan khas maupun yang ingin mengenang cita rasa masa kecil mereka.
Seorang warga asal Kuansing, Marlina (45), mengungkapkan rasa bahagianya bisa kembali mencicipi makanan tradisional yang sudah lama dan jarang ia temui.
“Sudah lama saya tidak menikmati makanan khas kampung halaman. Dengan adanya bazar ini, saya bisa bernostalgia dengan cita rasa masakan yang dulu sering dibuat oleh orang tua saya. Semoga acara seperti ini terus berlanjut,” katanya.
Senada dengan Marlina, Andi Saputra (30), pemuda asal Kuansing, merasa bangga melihat makanan daerahnya diperkenalkan lebih luas.
“Saya bangga melihat makanan tradisional kita diperkenalkan di Pekanbaru. Ini bukan hanya soal kuliner, tetapi juga tentang mempertahankan warisan budaya kita,” ujarnya.
Penulis: Sukri
Editor: Indra








