DHARMASRAYA, DURASI.co.id – Pemerintah Kabupaten Dharmasraya memperkuat langkah perlindungan kesehatan masyarakat menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap. Data per Rabu (7/10/2026) pukul 04.00 WIB menunjukkan nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) mencapai 145, sedangkan Air Quality Index (AQI) berada di angka 181.
Kondisi tersebut menempatkan kualitas udara di Kabupaten Dharmasraya dalam kategori tidak sehat.
Merespons kondisi itu, Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy menyalurkan bantuan 50.000 masker kepada Pemerintah Kabupaten Dharmasraya. Bantuan tersebut diterima di Pulau Punjung pada Rabu malam dan selanjutnya akan didistribusikan kepada masyarakat.
Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani langsung menginstruksikan jajarannya agar bantuan tersebut segera disalurkan ke berbagai wilayah.
Penerimaan bantuan di lapangan dikoordinasikan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Catur Eby, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Yefrinaldi, serta Kepala Dinas Kesehatan Yosta Defina.
Pemerintah Kabupaten Dharmasraya mengapresiasi langkah cepat Wakil Gubernur Sumatera Barat dalam membantu masyarakat yang terdampak memburuknya kualitas udara.
“Bantuan puluhan ribu masker dari Wagub Vasko Ruseimy ini menjadi amunisi krusial bagi Pemerintah Kabupaten Dharmasraya untuk langsung melakukan intervensi proteksi di lapangan. Indikator ISPU yang berada di kategori tidak sehat ini menuntut kita bergerak agresif melakukan mitigasi risiko kesehatan warga,” tegas Catur Eby meneruskan arahan Bupati Annisa.
Selain membagikan masker, Pemkab Dharmasraya mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Warga juga diminta mengurangi mobilitas pada pukul 10.00 hingga 15.00 WIB untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan yang tidak mendukung.
Sebanyak 50.000 masker tersebut dijadwalkan mulai didistribusikan secara massal ke seluruh kecamatan di Kabupaten Dharmasraya pada Kamis (8/10/2026).
Distribusi akan memprioritaskan kelompok masyarakat yang dinilai paling rentan terhadap gangguan kesehatan akibat paparan polusi udara, terutama ibu hamil, balita, anak-anak, lansia, serta pekerja yang harus beraktivitas di luar ruangan.
Untuk mempercepat distribusi, Pemkab Dharmasraya mengerahkan sejumlah perangkat daerah dan unsur pelayanan kesehatan. Dinas Kesehatan, BPBD, Satpol PP, Puskesmas, kader Posyandu, hingga Dasawisma dilibatkan dalam upaya perlindungan masyarakat.
“Semakin cepat disalurkan dan semakin luas penyebarannya, pembagian masker ini akan semakin efektif untuk menjaga kesehatan serta keselamatan masyarakat,” ujar Catur.
Di sisi lain, kondisi kualitas udara yang memburuk di Dharmasraya tidak diikuti dengan ditemukannya titik api di wilayah tersebut. Berdasarkan penelusuran data satelit, Kabupaten Dharmasraya tercatat tidak memiliki hotspot sejak 23 September 2026.
Kondisi itu menguatkan dugaan bahwa kabut asap yang menyelimuti Dharmasraya berasal dari wilayah lain dan terbawa masuk ke daerah tersebut.
Meski demikian, pemerintah daerah memilih memprioritaskan penanganan dampak terhadap masyarakat. Perlindungan kesehatan warga menjadi fokus utama di tengah kondisi udara yang berada dalam kategori tidak sehat. [Sonia Chaniago]










