Di
balik pesona pariwisata Kepulauan Riau (Kepri), terhampar sebuah kenyataan yang jarang terlihat oleh para pelancong. Wilayah yang sering dikenal sebagai pintu gerbang ekonomi Indonesia ini, ternyata menyimpan ancaman serius, yakni jalur gelap penyelundupan barang ilegal internasional. Kepri, yang terletak strategis di perbatasan dengan Singapura dan Malaysia, bukan hanya menjadi titik transit perdagangan yang sah, tetapi juga menyimpan risiko besar yang mengancam stabilitas negara.
Di tengah hiruk-pikuk Kota Batam, Mayjen TNI (Purn) H Asril Hamzah Tanjung, sosok militer yang telah mengabdikan diri selama puluhan tahun untuk negara, berbicara tegas soal ancaman ini. “Kepri rawan menjadi pintu masuk penyelundupan barang ilegal, termasuk narkoba,” kata Asril dengan penuh kekhawatiran. “Ini bukan hanya masalah lokal, tetapi sudah menjadi ancaman nasional yang merugikan negara.”
Bagi Asril, ancaman ini tak bisa dianggap enteng. Dengan pengalaman luas di medan perang dan tugas-tugas militer internasional, Asril menggambarkan bagaimana Kepri bisa menjadi titik lemah yang dimanfaatkan oleh sindikat internasional. Ia mengingatkan bahwa setiap penyelundupan, sekecil apapun, bukan hanya merugikan perekonomian, tetapi juga menciptakan ruang bagi kejahatan yang lebih besar. “Ini adalah masalah yang harus diberantas habis,” tegasnya.
Namun, ancaman tidak hanya datang dari penyelundupan barang ilegal. Asril, yang kini juga aktif di dunia politik sebagai Dewan Pembina Partai Gerindra, menyebutkan ada empat ancaman besar yang menggerogoti Indonesia dari berbagai arah, yakni korupsi, narkotika, terorisme, dan kemiskinan. Semua ini, menurutnya, saling berkaitan dan saling memperburuk keadaan. “Kita tidak hanya menghadapi ancaman fisik, tetapi juga perang yang lebih subtil, yakni perang informasi dan digital,” ujar Asril, mengingatkan akan ancaman cyber war yang semakin nyata.
Sebagai mantan Kepala Staf Kostrad, Asril memiliki pandangan yang tajam tentang ancaman yang ada di hadapan Indonesia. Menurutnya, penyelundupan narkoba dan barang ilegal hanyalah satu sisi dari masalah besar yang sedang dihadapi Indonesia. “Cyber war kini bisa mengancam lebih dari sekadar ekonomi, tetapi juga sistem pertahanan negara. Serangan digital bisa menghancurkan infrastruktur kritis dan menciptakan ketidakstabilan politik yang lebih dalam,” paparnya.
Pernyataan Asril ini bukan tanpa dasar. Dalam beberapa tahun terakhir, Kepri telah menjadi sorotan utama dalam kasus penyelundupan narkoba melalui pelabuhan-pelabuhan ilegal yang ada di Batam dan daerah sekitarnya. Pengawasan yang minim dan jarak yang dekat dengan negara tetangga membuat Kepri menjadi tempat yang ideal bagi sindikat internasional untuk melancarkan aksinya. Selain itu, kemajuan teknologi informasi juga memperburuk kondisi, di mana serangan digital terhadap sistem pertahanan dan intelijen Indonesia semakin meningkat.
Bagi Asril, ancaman ini tidak hanya harus dihadapi oleh aparat keamanan, tetapi juga oleh seluruh elemen bangsa, termasuk media. “Media memiliki peran yang sangat besar dalam menangkal perang informasi dan mengungkap setiap jaringan penyelundupan yang ada,” katanya.
Dewan Pakar PWI Kepri, Renty, mengapresiasi seruan Asril untuk lebih aktif dalam pemberitaan dan investigasi terkait penyelundupan di Kepri. Renty menekankan pentingnya media untuk tidak hanya melaporkan, tetapi juga mengawal setiap kasus hingga tuntas. “Wartawan di Kepri harus lebih proaktif mengungkap dan mengawal kasus penyelundupan narkoba, dari penangkapan hingga keputusan pengadilan,” tegasnya.
Hal ini sejalan dengan pandangan Asril yang melihat media lokal sebagai garda terdepan dalam memerangi kejahatan lintas negara. “Kita perlu lebih banyak laporan investigatif yang dapat memicu perhatian publik dan mendorong pihak berwenang untuk bertindak lebih cepat,” ujarnya.
Keputusan Asril untuk tetap berperan aktif meski sudah pensiun dari militer bukanlah hal yang mengejutkan bagi mereka yang mengenal jejak hidupnya. Lahir di Sawahlunto pada 12 April 1950, Asril telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam setiap langkah kariernya. Mulai dari menjadi anggota Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri), hingga memimpin Kontingen Garuda XII D di Kamboja, Asril selalu ditempa di medan pertempuran yang berat.
Meskipun telah pensiun dari militer pada tahun 2005, Asril tidak berhenti berkontribusi untuk bangsa. Ia terjun ke dunia bisnis, organisasi kemasyarakatan, dan politik. Pada 2014, Asril terpilih sebagai Anggota DPR RI, mewakili Dapil DKI Jakarta I. Dalam perjalanan politiknya, ia konsisten mengangkat isu-isu penting, termasuk pertahanan negara dan keamanan nasional.
Kini, dengan segala pengalaman itu, Asril memilih untuk tetap berada di garis depan dalam memerangi penyelundupan dan ancaman lainnya di Kepri. Bagi Asril, medan perang telah bergeser. Ancaman tidak lagi hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam, melalui peredaran narkoba, informasi palsu, dan korupsi.
“NKRI harga mati,” katanya, menegaskan komitmennya untuk terus melawan setiap ancaman yang mengancam tanah air. “Saya siap perang, menjadi garda terdepan dalam memerangi musuh-musuh bangsa ini, apapun bentuknya.”
Kepri, yang selama ini dikenal sebagai pusat ekonomi dan pariwisata, kini menjadi medan baru dalam pertempuran Indonesia melawan penyelundupan, dan kejahatan transnasional lainnya. Mayjen TNI (Purn) Asril Hamzah Tanjung, dengan dedikasi dan pengalamannya, tidak hanya berbicara tentang ancaman yang ada, tetapi juga mengajak seluruh bangsa untuk bersatu dan bertindak. Sebagai mantan prajurit, pengusaha, dan politisi, Asril menegaskan satu hal yang tidak bisa ditawar, perang ini belum selesai, dan Indonesia harus tetap waspada. [durasi]


