Konektivitas Jalan Nasional Aceh Pulih, Jembatan Permanen Mulai Dibangun

Proses pekerjaan perbaikan dan rekonstruksi infrastruktur jalan nasional di Aceh terus berlangsung guna memulihkan konektivitas pascabencana banjir dan longsor. (Foto: Andre/Durasi.co.id)

BANDA ACEH, DURASI.co.id – Di Aceh, aspal bukan sekadar material konstruksi. Ia menjadi urat nadi yang menentukan apakah denyut ekonomi di pasar lokal tetap berdetak atau terhenti. Pascahantaman bencana banjir bandang dan longsor yang melumpuhkan sebagian wilayah Serambi Mekkah di penghujung 2025, wajah infrastruktur Aceh kini mulai memasuki babak baru: transisi menuju permanen.

“Air datang bukan sekadar membawa lumpur, tetapi juga membawa isolasi,” ungkap Heri Yugiantoro, Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Senin (9/2/2026).

Sejak awal bencana, tim di bawah Satuan Kerja Pembangunan Jalan Nasional Wilayah I bergerak cepat dengan fokus utama menjaga akses agar tidak terputus.

Berdasarkan data terbaru per Februari 2026, sejumlah jalur utama di Aceh telah dinyatakan kembali terbuka untuk semua jenis kendaraan. Pada Lintas Timur, ruas Banda Aceh–Meureudu–Bireuen hingga Kuala Simpang dan perbatasan Sumatera Utara kini sudah berfungsi normal. Sementara itu, di Lintas Tengah, ruas Bireuen–Takengon dan Gayo Lues–Kutacane yang sebelumnya lumpuh akibat 362 titik longsor mulai dapat dilalui secara bertahap meski masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

Baca Juga :  BP Batam Promosikan Investasi Batam di Pameran Nasional Lombok Sumbawa ITTAF 2024

Masyarakat tidak perlu menunggu lama dalam ketidakpastian jembatan darurat. Pada 21 Januari 2026, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo telah melakukan peletakan batu pertama rekonstruksi permanen di sejumlah titik strategis.

Lokasi jembatan tersebut meliputi ruas Banda Aceh–Meureudu, ruas Kota Bireuen–Aceh Utara (Jembatan Krueng Tingkem Mak), ruas Kota Bireuen–Bener Meriah (Jembatan Teupin Mane), serta ruas Aceh Tengah–Nagan Raya (Jembatan Krueng Beutong).

Bagi Baim (50), seorang sopir trailer asal Lhokseumawe, perbaikan ini menyangkut keselamatan dan mata pencaharian. “Yang penting bisa lewat dulu, barang sampai, penumpang aman. Namun, kami berharap tambal sulam ini tidak berlangsung lama karena kami membutuhkan jalan yang benar-benar kuat,” tuturnya.

Baca Juga :  Sri Mulyani Beberkan Manfaat G20 Bagi Indonesia

Pemerintah melalui Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) telah mengalokasikan anggaran signifikan. Total kebutuhan pemulihan Aceh mencapai Rp153,3 triliun untuk memastikan infrastruktur pascabencana tidak hanya kembali seperti semula, tetapi juga lebih tangguh.

Saat ini, Aceh terus berbenah. Dari menutup lubang hingga menanam tiang pancang jembatan baru, setiap jengkal perbaikan menjadi langkah untuk menyambung kembali harapan masyarakat yang sempat terkoyak bencana. [Andre]