TANJUNGPINANG, DURASI.co.id – Hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Tahun 2025 yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan tren positif di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Dalam dua tahun terakhir, tingkat potensi radikalisme di daerah tersebut tercatat mengalami penurunan dan berada dalam kondisi relatif terkendali.
Berdasarkan hasil survei, Indeks Potensi Radikalisme Kepri pada 2025 tercatat sebesar 13,1. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan tahun 2024 dan lebih rendah dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 13,7.
Temuan tersebut dipaparkan dalam kegiatan Internalisasi Hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Tahun 2025 yang menjadi bagian dari rangkaian Kajian Senin Kamis (KSK) Tahun 2026. Kegiatan yang digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kepri itu berlangsung pada Kamis, 18 Juni 2026.
Subkoordinator Penelitian dan Evaluasi BNPT, Teuku Fauzansyah, mengatakan hasil survei tersebut diharapkan dapat menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan pencegahan radikalisme yang lebih tepat dan berbasis data.
“Hasil tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan program pencegahan yang adaptif dan berbasis bukti (evidence-based policy),” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Teuku juga menyampaikan sambutan Direktur Pencegahan BNPT RI yang menegaskan bahwa Survei Indeks Potensi Radikalisme merupakan instrumen penting untuk mengukur tingkat kerentanan masyarakat terhadap paham radikal sekaligus menjadi dasar dalam penyusunan program pencegahan yang lebih efektif.
“Survei Indeks Potensi Radikalisme merupakan instrumen strategis yang dikembangkan BNPT untuk memahami dinamika kerentanan masyarakat terhadap paham radikal sebagai dasar penyusunan kebijakan dan program pencegahan yang lebih tepat sasaran,” demikian disampaikan dalam sambutan Direktur Pencegahan BNPT.
Sementara itu, Peneliti FKPT Kepri, Muhammad Zaenuddin, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan terhadap 350 responden yang tersebar di Kota Batam, Kota Tanjungpinang, dan Kabupaten Bintan. Pengumpulan data dilakukan melalui metode wawancara tatap muka secara langsung.
Selain mengukur potensi radikalisme, survei tersebut juga memetakan tingkat pengenalan masyarakat terhadap BNPT dan FKPT, termasuk kebiasaan masyarakat dalam mengakses konten keagamaan di ruang digital.
Menurut Zaenuddin, penguatan kesadaran terhadap keberagaman menjadi salah satu aspek penting dalam upaya pencegahan radikalisme di tengah masyarakat.
“Inti yang perlu diperkuat adalah kesadaran akan keberagaman. Masyarakat harus memahami bahwa perbedaan suku, agama, dan latar belakang adalah hal yang wajar. Toleransi dan saling menghargai perbedaan menjadi kunci agar potensi radikalisme dapat diminimalkan,” jelasnya.
Anggota Tim Reviu Survei IPR 2025, Lilik Purwandi, menilai tren indeks di Kepri menunjukkan kondisi yang cukup baik. Meski demikian, ia mengingatkan masih terdapat sejumlah kelompok yang rentan terpapar paham radikal, terutama perempuan, generasi muda, dan masyarakat yang aktif berinteraksi di ruang digital.
“Kearifan lokal, pola asuh keluarga, wawasan kebangsaan, literasi digital, dan moderasi beragama merupakan faktor penting yang perlu diperkuat agar masyarakat memiliki daya cegah, daya tangkal, dan daya lawan terhadap radikalisme dan terorisme,” kata Lilik.
Ia menambahkan bahwa sikap eksklusif dan intoleran masih menjadi salah satu pintu masuk utama penyebaran paham radikal. Oleh karena itu, upaya pencegahan perlu dilakukan melalui penguatan wawasan kebangsaan, pendidikan yang menanamkan nilai toleransi, pemanfaatan media digital secara positif, serta pendampingan generasi muda baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Melalui kegiatan tersebut, BNPT bersama FKPT Kepri kembali menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, tokoh masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ancaman radikalisme dan terorisme.
Hasil Survei IPR Tahun 2025 diharapkan tidak hanya menjadi data statistik, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan rekomendasi kebijakan, program edukasi, serta penguatan literasi digital dan kearifan lokal yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Kepri.
Selain mendiseminasikan hasil survei, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat sinergi antarpihak dalam mendukung upaya pencegahan radikalisme dan terorisme secara berkelanjutan di Kepri. [rud]


