PEKANBARU, DURASI.co.id – Untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir dan longsor pada musim hujan, Pemerintah Provinsi Riau menyiagakan 21 unit alat berat dan truk sebagai langkah awal penanggulangan bencana hidrometeorologi.
Penyiagaan ini menjadi tindak lanjut atas penetapan Status Siaga Bencana Hidrometeorologi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, pada 1 Desember lalu.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edy Afrizal, mengatakan bahwa langkah awal penanggulangan bencana melibatkan sosialisasi, pendirian posko, serta pemantauan di daerah rawan. Koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk memastikan seluruh alat berat siap dikerahkan.
“Persiapan kita di tahap awal ini sosialisasi, mendirikan posko dan melakukan pemantauan. Termasuk berkoordinasi dengan Dinas PUPR untuk kesiapsiagaan di lokasi rawan bencana,” kata Edy Afrizal, Jumat (5/12/2025).
Ia menjelaskan bahwa alat berat tersebut ditempatkan di pos-pos Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas PUPR yang berada di 12 kabupaten/kota. Sebaran ini diharapkan mempercepat respons ketika terjadi bencana.
Secara rinci, Edy memaparkan komposisi alat berat yang disiagakan, yaitu 2 unit eskavator amfibi, 1 unit eskavator PC 200, 8 unit eskavator PC 130, serta 1 unit eskavator lengan panjang. Selain itu, terdapat 6 unit motor greder dan 6 unit dump truk, sehingga total alat siap mobilisasi mencapai 21 unit.
Menurutnya, kesiapan armada ini penting untuk memastikan penanganan bencana berjalan cepat, terutama menghadapi potensi banjir di sejumlah aliran sungai besar seperti Sungai Kampar, Siak, Indragiri, dan Rokan.
“Alat ini disiapkan agar mobilisasi jika terjadi bencana dapat berjalan maksimal. Dengan begitu, proses penanganan bencana di Riau bisa dilakukan dengan cepat,” tegasnya.
Selain penyiagaan alat berat, BPBD Riau juga memantau elevasi debit air di Waduk PLTA Koto Panjang, Kampar, yang menjadi indikator penting potensi banjir. BPBD terus berkomunikasi dengan PLN dan BMKG untuk mendapatkan pembaruan kondisi secara berkala.
“Kita juga memantau elevasi debit air di PLTA Koto Panjang. Kita meminta PLN melaporkan kondisi elevasi waduk secara berkala, begitu juga dengan BMKG,” kata Edy.
Ia menyebutkan bahwa meski sebelumnya sempat mengalami kekeringan, ketinggian air waduk kini mulai meningkat. Namun kondisi tersebut masih berada pada batas normal. Pemantauan ketat dinilai penting untuk memberikan peringatan dini sebelum kemungkinan terjadinya luapan air.
“Pembaruan terakhir menunjukkan air sudah naik, tetapi masih dalam batas normal. Kenaikan ini terjadi setelah sebelumnya sempat kering,” tukasnya.
Penulis: Sukri
Editor: Indra







