Warga Pekanbaru Kelimpungan, Harga Sayuran dan Cabai Melonjak Drastis

Cabai merah yang dijual di salah satu pasar tradisional di Pekanbaru. (Foto: Haykal-Durasi.co.id)

PEKANBARU, DURASI.co.id – Gejolak harga bahan pokok kembali menghantui warga Pekanbaru setelah pasokan sejumlah komoditas tersendat akibat bencana alam yang melanda Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Kondisi ini memunculkan tekanan baru pada stabilitas pangan kota, terutama karena Pekanbaru masih sangat bergantung pada distribusi dari kedua provinsi tersebut.

Anggota Komisi II DPRD Kota Pekanbaru, Rizky Bagus Oka, menyampaikan keprihatinan atas lonjakan harga yang kini dirasakan masyarakat. Ia menyebut bahwa dampak bencana di Sumbar dan Sumut secara langsung memukul pasokan pangan bagi Pekanbaru.

“Musibah di Sumbar dan Sumut adalah duka bersama. Dampaknya langsung menghantam Pekanbaru karena pasokan kita sangat bergantung pada kedua daerah tersebut,” ujar Rizky, Jumat (28/11/2025).

Baca Juga :  Dukung Indonesia Bebas ODOL 2023, Ini yang Dilakukan Dishub Riau

Rizky membeberkan bahwa kenaikan harga yang terjadi di pasar tradisional termasuk kategori ekstrem. Harga cabai merah dilaporkan menembus Rp130 ribu per kilogram, diikuti kenaikan cabai hijau, cabai rawit, bawang merah, serta berbagai jenis sayuran segar.

“Kenaikan harga sampai Rp130 ribu untuk cabai merah ini harus segera direspons,” tegasnya.

Ia mendesak Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk segera mengambil langkah intervensi jangka pendek, di antaranya pelaksanaan operasi pasar di wilayah terdampak, intervensi harga pada komoditas kritis, dan pengetatan pengawasan distribusi guna mencegah penimbunan.

Komisi II DPRD juga meminta laporan resmi mengenai kondisi stok pangan Pekanbaru, identifikasi jalur distribusi yang terganggu, serta daftar komoditas yang berpotensi mengalami kelangkaan dalam satu hingga dua pekan mendatang.

Baca Juga :  Pemdes Kelemantan Barat Gelar Pelatihan Pengadaan Barang dan Jasa untuk Aparatur Desa

Rizky menekankan bahwa ketergantungan tunggal pada Sumbar dan Sumut tidak boleh berlanjut. Diversifikasi pasokan menjadi kebutuhan mendesak.

“Kita harus membuka jalur pasokan alternatif dari Jambi, Sumsel, Lampung, dan memperkuat kerja sama antardaerah. Pekanbaru tidak boleh terlalu bergantung pada satu sumber,” katanya.

Selain solusi jangka pendek, ia menyoroti pentingnya percepatan pembangunan Pasar Induk Pekanbaru sebagai langkah struktural jangka panjang.

“Kita butuh pasar induk yang benar-benar berfungsi sebagai pusat distribusi dan stabilisasi harga. Dengan pasar induk yang kuat, kita bisa menjaga stok, mendapatkan harga lebih kompetitif, dan tidak bergantung pada satu jalur distribusi saja,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Rizky mendorong penguatan ketahanan pangan melalui berbagai langkah berkelanjutan, seperti pembangunan buffer stock pangan daerah, pengembangan urban farming, sentra hortikultura lokal, serta digitalisasi informasi harga harian.

Baca Juga :  Simpan Sabu Dalam Kotak Rokok, Pria 23 Tahun di Rengat Ditangkap Polisi

“Pekanbaru tidak boleh terus terguncang setiap kali terjadi bencana di daerah pemasok. Termasuk mempercepat kehadiran Pasar Induk sebagai pusat stabilisasi harga,” tandasnya.

Penulis: Haykal
Editor: Indra