Pasokan Air Sering Mati, Forpekemastabb: Segera Hentikan Kontrak dengan PT Moya Indonesia

Forpekemastabb memasang spanduk meminta pemutusan kontrak pengelolaan air bersih dengan PT Moya Indonesia di depan kantor SPAM Batam. (Foto: Durasi.co.id)

BATAM, DURASI.co.id – Pelayanan air bersih di Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) hingga saat ini masih menjadi sorotan masyarakat.

Pasalnya, pasokan air bersih sering mengalami gangguan, bahkan tidak mengalir selama beberapa hari ke pelanggan.

Merespon persoalan itu, Ketua Forum Peduli Keluhan Masyarakat Atas Air Bersih (Forpekemastabb) Thomas AE menilai PT Moya Indonesia tidak mampu dan tidak profesional dalam pengelolaan air bersih di Kota Batam.

“Sejak PT Moya Indonesia ditunjuk BP Batam sebagai pengelola air bersih di Batam November 2020, awalnya masyarakat khususnya pelanggan sangat berharap kualitas pelayanan dan pasokan air ke rumah mereka akan semakin baik dan lancar. Namun tidak sampai hitungan bulan, harapan dan impian tersebut menjadi sirna dan pupus dari benak mereka,” kata Thomas kepada Durasi.co.id, Selasa (8/8/2023).

Hal ini, kata Thomas, karena pasokan air dan kualitas layanan PT Moya Indonesia sangat mengecewakan dan buruk. Kekecewaan pelanggan semakin memuncak karena terhentinya pasokan air, setiap hari media massa siber, cetak serta media sosial memberitakan buruknya pelayanan air bersih di Kota Batam.

Baca Juga :  BP Batam Dukung Pelepasan Ekspor Timah Solder, Tegaskan Momentum Hilirisasi

“Dari lebih kurang 300 ribu pelanggan PT Moya Indonesia, sedikitnya 36 ribu pelanggan mengalami gangguan pasokan air bersih ke rumah mereka. Bahkan tidak hanya pelanggan rumah tangga, tapi kalangan perusahaan industri galangan kapal, perhotelan, warung kopi dan usaha lainnya turut merasakan nasib yang sama. Mereka merasa dirugikan saat air terhenti mengalir,” sebutnya.

Lebih lanjut Thomas mengatakan, adapun berapa kawasan yang sering mengalami mati air yakni perumahan di Batam Kota, Sei Binti, Bengkong Nusantara, Taman Buana Indah, Pasar Cahaya Garden, Perumahan Bukit Raya, dan masih banyak lagi.

“Konsekuensi buruknya pelayanan dan seringnya mati air di Batam, banyak masyarakat yang terpaksa harus berangkat bekerja tanpa mandi. Banyak hotel dan apartemen yang hanya baru berapa bulan beroperasi setelah Covid-19 berlalu, Jadi kehilangan tamu karena tidak ada air di hotel. Tidak hanya itu, warung kopi, restoran dan usaha kuliner lainnya juga mengalami penurunan penjualan karena tamu-tamu atau pengunjung jadi enggan untuk datang karena tidak ada air,” bebernya.

Baca Juga :  Pawai Budaya HJB ke-196 Tampilkan Ragam Pakaian Adat Nusantara di Engku Putri

Ia mengemukakan, jika pasokan air ini terus semakin memburuk, masyarakat berpotensi mengkonsumsi air yang tidak layak dan tidak sehat untuk dikonsumsi. Kesehatan dan hak-hak dasar masyarakat atas air bersih bisa menjadi korban.

“Dalam kasus seringnya mati air ke rumah pelanggan, satu hal yang penting dan tidak boleh dilupakan atau diabaikan oleh BP Batam sebagai regulator dan PT Moya Indonesia sebagai pengelola air bersih, bahwa hak-hak dasar pelanggan air bersih tidak diperoleh secara gratis,” ucapnya dengan lantang.

Ia menerangkan, pelanggan membeli hak-hak dasar mereka dari pengelola air bersih melalui pembayaran iuran tagihan air mereka setiap bulannya.

“Seringnya mati air, serta kenaikan tarif air, sama artinya bahwa pelanggan membayar semakin mahal untuk sebuah kualitas layanan yang semakin memburuk. Dan pemenuhan hak-hak dasar pelanggan atas air bersih, tidak setara dengan nilai yang dibayar,” katanya.

Baca Juga :  Seolah Legal, Judi Siji di Pasar Angkasa Batam Dilayani Secara Terbuka

Padahal, kata Thomas, pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan merata berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.

“Ketersediaan pasokan air bersih mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional, maka usaha penyediaan air bersih dikuasai oleh negara, serta penyediaannya perlu terus ditingkatkan seiring dengan perkembangan zaman, dinamika pembangunan dan teknologi,” tandasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, Humas PT Moya Indonesia, Ginda Alamsyah belum menjawab konfirmasi yang disampaikan Durasi.co.id terkait permasalahan air bersih di Kota Batam. (red)