Kasus DBD di Batam Melonjak, Bengkong Jadi Wilayah dengan Kasus Tertinggi

Ilustrasi. (Foto: Wikimedia Commons)

BATAM, DURASI.co.id – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batam mengalami lonjakan signifikan pada awal 2025. Hingga Februari, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat sebanyak 103 kasus, dengan Kecamatan Bengkong menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menyebut pada Januari terdapat 75 kasus, sementara Februari ini bertambah 28 kasus.

“Dari total kasus tersebut, Kecamatan Bengkong menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 19 kasus. Disusul Kecamatan Batam Kota dengan 18 kasus, Sagulung 15 kasus, dan Lubuk Baja 13 kasus,” kata Didi, Rabu (19/2/2025).

Sedangkan, Batu Aji 11 kasus, Sekupang 9 kasus, Batu Ampar 7 kasus, Nongsa 5 kasus, Sungai Beduk 4 kasus, serta masing-masing 1 kasus di Belakang Padang dan Galang. Sementara Bulang menjadi satu-satunya wilayah yang masih nol kasus.

Baca Juga :  Kota Batam Dapat Penghargaan Innovative Government Award 2024

“Kami melihat tren peningkatan ini masih perlu diwaspadai, terutama di daerah dengan kepadatan penduduk tinggi. Kami mengimbau masyarakat agar lebih aktif dalam upaya pencegahan penyebaran DBD ini,” katanya.

Untuk menekan angka kasus DBD, kata Didi, Pemerintah Kota Batam telah mengeluarkan Surat Edaran Wali Kota Batam Nomor 23 Tahun 2024 tentang Kewaspadaan Dini Peningkatan Kasus DBD.

“Surat edaran ini menginstruksikan masyarakat, instansi pemerintah, hingga sekolah untuk lebih aktif dalam mencegah penyebaran DBD dengan menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN),” ujarnya.

Selain itu, Dinas Kesehatan Batam juga menggencarkan program Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J). Program ini melibatkan kader kesehatan dan warga untuk secara rutin memeriksa jentik nyamuk di rumah dan lingkungan sekitar.

Baca Juga :  Wakil Kepala BP Batam Dorong Pertumbuhan Investasi Inklusif

“Upaya pencegahan berbasis masyarakat seperti ini sangat penting. Kami ingin setiap rumah memiliki satu orang yang bertanggung jawab dalam memastikan tidak ada tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti,” harapnya.

Dinkes Batam juga telah melakukan fogging di beberapa daerah rawan. Namun, Didi menegaskan bahwa fogging bukan solusi utama dalam menekan penyebaran DBD.

“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, tetapi tidak menghentikan perkembangbiakan larva. Yang paling penting adalah menjaga kebersihan lingkungan, menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, dan mendaur ulang barang bekas yang bisa menjadi tempat nyamuk bertelur,” tuturnya.

Didi mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala DBD, seperti demam tinggi mendadak selama 2-7 hari, nyeri otot dan sendi, muncul bintik merah di kulit, mual dan muntah, serta penurunan kesadaran pada kasus yang lebih parah.

Baca Juga :  Bandara Hang Nadim Batam Siapkan Posko Mudik dan Tambah X-Ray

“Kami berharap masyarakat semakin sadar akan bahaya DBD dan bersama-sama melakukan upaya pencegahan. Jangan menunggu sampai kasus semakin meningkat,” sebutnya.

Penulis: Ledi
Editor: Indra