Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wasbang Perdana Salomo TR Pardede: Gotong Royong sebagai Jiwa Pancasila

Anggota DPRD Kota Medan, Salomo TR Pardede saat menyampaikan sambutan pada acara Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan, Sabtu (30/5/26). Foto: Nababan/Durasi.co.id

MEDAN, DURASI.co.id – Gotong royong sangat penting karena menjadi pilar utama dalam merekatkan persatuan, meringankan beban pekerjaan berat, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Praktik ini menciptakan masyarakat yang harmonis, mencegah potensi konflik, serta menjadi identitas penting dalam kehidupan bermasyarakat.

“Pada hakikatnya, kegiatan gotong royong membuat warga saling memperhatikan. Judi online dan peredaran narkoba saat ini terjadi karena jiwa gotong royong warga mulai menipis,” kata Eka Prahadian Abdurahman yang tampil sebagai narasumber pada acara Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (Wasbang) Perdana Salomo TR Pardede, Sabtu (30/5/2026), di Jalan Pattimura Nomor 163, Medan.

Gotong royong merupakan jiwa Pancasila. Bung Karno menegaskan bahwa sari pati Pancasila adalah gotong royong, sebuah filosofi yang menolak individualisme dan mengutamakan kerja sama serta kebersamaan demi kemajuan bersama, kata dosen FISIPOL USU tersebut.

Bung Karno pernah mengatakan bahwa kemerdekaan diperoleh bukan untuk kepentingan golongan tertentu. Gotong royong juga menumbuhkan rasa toleransi. Semua saling menolong meskipun berbeda agama dan suku bangsa. Gotong royong merupakan identitas bangsa Indonesia, lanjutnya.

Warga yang hadir terlihat sangat antusias mengikuti acara tersebut. Terjadi dialog interaktif antara narasumber dan warga.

Sementara itu, anggota DPRD Kota Medan, Salomo Pardede, mengingatkan warga agar tetap mempererat tali silaturahmi melalui kegiatan gotong royong.

“Gotong royong merupakan ciri khas bangsa Indonesia karena sejak zaman nenek moyang, berbagai kegiatan di masyarakat dikerjakan secara gotong royong,” kata Salomo.

“Gotong royong adalah jiwa Pancasila. Gotong royong dijalankan sebagai wujud ibadah, saling menghargai antarpemeluk agama, serta tolong-menolong dalam kebaikan.

Gotong royong dilakukan dengan dasar kemanusiaan untuk meringankan beban sesama secara adil dan beradab.

Gotong royong menjadi perekat keberagaman suku, agama, dan ras karena mengutamakan persatuan serta kepentingan bersama di atas kepentingan golongan.

Pelaksanaannya senantiasa diwarnai musyawarah, mufakat, dan semangat kekeluargaan dalam mengambil keputusan.

Tujuan akhir gotong royong adalah pemerataan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tutupnya. [Nababan]

Baca Juga :  PDIP Riau Tunjuk 11 Ketua Baru DPC, Berikut Daftarnya