PURWAKARTA, DURASI.co.id – Tidak ada kata perpisahan di Al-Muhajirin. Yang ada adalah Khutbatul Ikhtitam, khutbah terakhir yang disampaikan sebagai penutup perjalanan, penanda keberangkatan dalam keberkahan, dalam balutan ilmu, doa, dan pesan cinta dari sang guru.
SMA MA Al-Muhajirin Kampus Pusat menyelenggarakan Khutbatul Ikhtitam Santri Kelas 12 Tahun Pelajaran 2024/2025 pada Sabtu, 17 Mei 2025, bertempat di Aula Al-Madinah, Kompleks Al-Muhajirin Cisereuh, Purwakarta.
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Dr KH Abun Bunyamin MA, beserta Ibu Pimpinan, Dra Hj Euis Marfuah MA.
Turut hadir Ketua Yayasan Al-Muhajirin, Dr Hj Ifa Faizah Rohmah M.Pd, serta Kepala SMA-MA Al-Muhajirin Kampus Pusat KH R Marpu Muhidin Ilyas MA, bersama jajaran guru.
Para orang tua santri pun tampak hadir, duduk berjejer dengan wajah yang penuh doa dan harapan, menyaksikan momen penuh makna dalam kehidupan anak-anak mereka.
Dalam pidatonya, Ifa Faizah Rohmah tampak tak kuasa menahan air mata. Ia mengungkapkan apresiasi mendalam kepada para orang tua santri, sekaligus mengenang perjuangan panjang yang telah dilalui para santri selama menempuh pendidikan di Al-Muhajirin.
“Mungkin ibu yang lebih banyak menangis hari ini, karena terlalu banyak kenangan yang telah kita lalui bersama. Tidak semua bisa dituturkan lewat kata-kata dan dalam bait puisi. Tapi hati kita, saya yakin, lebih fasih bicara tentang enam tahun, tiga tahun yang penuh manis, pahit, dan getirnya perjuangan menuntut ilmu,” ungkapnya haru.
“Ibu yakin, justru ujian-ujian itulah yang membentuk kalian menjadi pribadi yang kuat dan kokoh. Karena setiap ujian tiada lain adalah cara Allah mempersiapkan kalian menjadi umat yang tangguh. Dari santri Al-Muhajirin inilah, ibu yakin, akan lahir harapan dan masa depan kita semua. Selamanya, kalian adalah anak-anak kami, keluarga besar kami. Dan selamanya, Al-Muhajirin adalah rumah kita bersama,” imbuhnya.
Sementara itu, Marpu Muhidin Ilyas menyampaikan bahwa misi paling berat bagi para guru adalah mempersiapkan santri agar sukses di masa depan. Kesuksesan itu, menurutnya, bukan hanya dalam satu atau lima tahun ke depan, tetapi dalam rentang kehidupan yang panjang.
“Ini adalah misi paling berat kami: mempersiapkan kalian untuk sukses, bukan hanya dalam waktu dekat, tapi untuk perjalanan hidup yang panjang di masa depan. Itulah yang terus kami usahakan di SMA MA Al-Muhajirin,” ujarnya.
Beliau pun berpesan kepada para santri agar tetap teguh dalam iman dan tauhid di mana pun mereka melanjutkan studi. “Kalian nanti akan melangkah ke mana pun, memilih jurusan apa pun, di perguruan tinggi mana pun, di dalam atau luar negeri, negeri atau swasta. Tapi catat baik-baik, Tuhan kalian adalah Allah SWT. Jangan pernah mempertuhankan selain Allah dalam proses kalian menjemput masa depan,” ujarnya.
KH Marpu juga membagikan pesan yang pernah ia terima dari Syaikhuna saat hendak melanjutkan kuliah, “Orang yang sukses adalah orang yang mampu mengubah keadaan, bukan orang yang berubah karena keadaan.”
Khutbatul Ikhtitam disampaikan langsung oleh Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Dr KH Abun Bunyamin MA.
Dalam khutbahnya, Syaikhuna kembali mengingatkan nasihat yang selalu beliau tanamkan kepada para santri: “Jadilah santri 3 in 1: Ulama, Sarjana, dan Pengusaha.”
Pertama, jadilah ulama yang memiliki ilmu agama yang mumpuni. Itu yang utama. Kedua, jadilah sarjana yang menguasai ilmu akademik dengan baik. Ketiga, jadilah pengusaha karena jika tidak, kalian akan terus bergantung pada orang lain, termasuk kepada pemerintah. Jangan menggantungkan hidup. Bertawakallah kepada Allah, tapi tetap harus berusaha,” ujar beliau.
Syaikhuna juga menekankan pentingnya semangat dan kekuatan doa dalam perjalanan hidup.
“Kita harus semangat. Dan jangan lupa, doa adalah senjata kita. Maka bangunlah di tengah malam. Dalam sebuah hadis disebutkan, setiap malam Allah mengutus malaikat mencari orang-orang yang bangun di waktu malam. Jika mereka berdoa, doa mereka diijabah. Jika mereka memohon ampun, diampuni. Jika mereka meminta, Allah ridho. Maka, bangunlah. Kemuliaan dan kewibawaan seorang mukmin itu ada pada salat malamnya,” tutur beliau.
Syaikhuna juga menyampaikan kunci kesuksesan dunia dan akhirat: “Kalau ingin sukses, hormatilah orang tua. Agungkan dan muliakan mereka. Jadilah anak yang paling baik kepada orang tua. Maka hidup kalian akan bahagia di dunia, dan beruntung di akhirat,” ucapnya.
Beliau juga menitipkan beberapa amalan penting yang seyogianya dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya, menjaga shalat lima waktu secara berjamaah di awal waktu, bangun malam meski hanya untuk dua rakaat tahajud, dan membaca Al-Qur’an setiap hari minimal 50 ayat.
Selain itu, beliau menganjurkan untuk membiasakan membaca buku dan kitab, walau hanya beberapa menit setiap hari. Tak kalah penting, santri diminta senantiasa mengingat jasa orang tua dan terus memuliakan mereka, serta menjaga akhlakul karimah, karena Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak umat manusia.
“Silakan kuliah di mana pun. Tapi jangan lupa ngaji, ngaji, dan ngaji. Kerja boleh, tapi kerja yang baik. Dan kalau nanti kalian tidak ke mana-mana, tidak kuliah, tidak kerja, tidak punya biaya kembalilah ke pondok. Tinggallah di Al-Muhajirin. Insya Allah, kalian tidak akan kelaparan. Di sini kalian tetap bisa melanjutkan ngaji, bahkan kuliah,” ucap beliau, disambut haru para hadirin.
Beliau juga mendoakan langsung seluruh santri agar ilmunya menjadi manfaat, hidupnya penuh berkah, dan jalannya selalu dalam lindungan Allah SWT. “Ku bapak didoakeun, sing berkah, sing salamet,” ujarnya dengan suara bergetar.
Adapun rangkaian acara Khutbatul Ikhtitam ditutup dengan peluncuran karya tulis santri SMA-MA Al-Muhajirin Kampus Pusat. Beberapa judul yang diluncurkan antara lain Paradoks Literasi, Menautkan Iman dan Ilmu, Tarjamah Mustalahul Hadis, Mujam Fathul Qarib, Dalilu Thalibin Surat Al-Mulk, Dalilu Thalibin Surat Yasin, serta Healthy Through Ruku dan Sujud. Karya-karya ini menjadi wujud nyata dari semangat literasi dan integrasi keilmuan yang terus ditanamkan di lingkungan pesantren.
Penulis: Rudi
Editor: Aliman







