BATAM, DURASI.co.id – Kinerja Satuan Pelayanan (Satpel) Pelabuhan Telaga Punggur, Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Kepulauan Riau (Kepri) kembali menjadi sorotan, setelah adanya dugaan manipulasi dokumen, dan penerbitan sertifikat karantina tanpa pemeriksaan barang.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Alarm Indonesia, Arfin EP, mengatakan bahwa lolosnya bahan pangan impor seperti bawang putih, wortel, kentang, dan buah-buahan dari Pelabuhan Roll On-Roll Off (Roro) ASDP Telaga Punggur serta pelabuhan-pelabuhan sekitarnya menunjukkan buruknya kinerja oknum-oknum Satpel Pelabuhan Telaga Punggur BKHIT Kepri.
“Bukan tidak mungkin dalam kandungan bahan pangan yang lolos ke Dabo Singkep, Kabupaten Lingga serta Tanjung Uban dan Pelabuhan Gentong terkandung pestisida yang berbahaya bagi kesehatan. Masyarakat tentu menjadi pihak yang dirugikan. Hal ini dapat dicegah jika BKHIT Kepri melakukan pemeriksaan sesuai tupoksinya,” kata Arifin, Minggu (22/12/2024).
Alarm Indonesia memandang perlu untuk mengingatkan kembali tentang kasus anggur Shine Muscat asal Thailand. Pada awal Oktober 2024, tiga lembaga utama Thailand, yaitu Jaringan Peringatan Pestisida Thailand (Thai-PAN), Dewan Keamanan Konsumen Thailand (TCC), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan Thailand (FDA), melakukan pengambilan sampel secara sistematis. Dalam proses ini, sebanyak 24 sampel diambil dari 15 lokasi berbeda di Bangkok dan sekitarnya, dengan 9 sampel di antaranya berasal dari China.
Hasil pengujian laboratorium mengungkapkan temuan yang mengkhawatirkan. Tim peneliti menemukan 50 jenis residu beracun dalam sampel yang diuji, dengan 14 bahan kimia berbahaya yang melebihi batas aman 0,01 mg/kg. Yang lebih mengkhawatirkan, 22 dari residu yang ditemukan bahkan tidak diatur dalam hukum Thailand, menunjukkan adanya celah dalam regulasi keamanan pangan.
Lebih lanjut, analisis menunjukkan bahwa 37 dari 50 zat yang ditemukan merupakan pestisida sistemik, yang berarti zat-zat ini telah meresap ke dalam jaringan buah dan sulit dihilangkan dengan pencucian biasa. Temuan ini memicu kekhawatiran serius mengenai keamanan konsumsi anggur Shine Muscat yang beredar di pasaran.
“Dengan proses pengawasan yang sangat rendah, ditambah dengan maraknya pemberitaan di berbagai media massa, maka tidak menutup kemungkinan BKHIT Kepri lalai dalam menjalankan tugas sesuai tupoksinya di daerah Punggur, Batam. Oleh karena itu, Alarm Indonesia menganggap perlu dilakukan audit kinerja terhadap Satpel Pelabuhan Telaga Punggur BKHTI Kepri, bila perlu dilakukan mutasi,” tegas Arifin.
Sementara itu, Kasatpel BKHIT Pelabuhan Telaga Punggur, Riki Hikman yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Senin (23/12/2024), tidak merespon.
DURASI.co.id juga telah mengkonfirmasi Humas BKHIT Kepri, Rizki. Namun hingga berita ini diterbitkan belum memberikan jawaban. (red)







