BATAM, DURASI.co.id – Kilang minyak baru berkapasitas 500.000 barel per hari akan dibangun di Pulau Pemping, Batam, Kepulauan Riau (Kepri).
Proyek ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan energi, mengurangi ketergantungan pada impor, serta menciptakan lapangan kerja bagi ratusan ribu tenaga kerja.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengungkapkan bahwa pembangunan kilang minyak ini akan dilakukan di Pulau Pemping, bukan di Pulau Nipa, sebagaimana kabar yang sebelumnya beredar.
Pernyataan ini sekaligus menepis spekulasi bahwa proyek senilai US$12,5 miliar atau setara Rp205,54 triliun (asumsi kurs Jisdor Rp16.443 per US$) tersebut akan dibangun di Pulau Nipa, yang juga berada di Batam.
“[Kilang baru] akan dibangun di Pemping, dekat Batam,” kata Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, dikutip Senin, 10 Maret 2025.
Yuliot menyebut bahwa Pulau Nipa akan dijadikan lokasi fasilitas penyimpanan minyak berkapasitas 1 juta barel per hari.
“Fasilitas ini akan berfungsi sebagai cadangan penyangga energi (CPE), sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2024 tentang Cadangan Penyangga Energi,” sebutnya.
Dia juga menjelaskan bahwa Pulau Pemping berdekatan dengan Pulau Nipa. Oleh karena itu, kawasan yang berdekatan dengan Singapura tersebut akan menjadi ekosistem pengolahan minyak.
“Itu kan lokasinya berdekatan. Jadi, ini merupakan bagian dari satu ekosistem yang menjadi satu kesatuan,” jelas Yuliot.
Adapun proyek pembangunan kilang berkapasitas 500.000 barel per hari ini merupakan bagian dari 21 proyek hilirisasi yang didorong pemerintah dan berpotensi didanai oleh BPI Danantara.
Dalam kesempatan terpisah, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa kilang ini akan menjadi yang terbesar. “Kita juga akan membangun refinery [kilang minyak] yang, insyaallah, kapasitasnya kurang lebih sekitar 500.000 barel. Ini akan menjadi salah satu yang terbesar nantinya. Ini dalam rangka mendorong agar ketahanan energi kita betul-betul lebih baik,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin, 3 Maret 2025 lalu.
Kilang tersebut diklaim mampu mengolah minyak mentah dari dalam negeri maupun impor. Kilang ini juga akan memproduksi berbagai produk minyak bumi, termasuk bahan bakar minyak (BBM), dengan total produksi mencapai 531.500 barel per hari, sehingga dapat memperkuat pasokan energi nasional.
Selain mengurangi ketergantungan pada impor, proyek ini berpotensi menghemat hingga 182,5 juta barel minyak per tahun atau setara US$16,7 miliar. Tak hanya itu, pembangunan kilang ini juga membuka peluang besar bagi penciptaan lapangan kerja, dengan 63.000 tenaga kerja langsung dan 315.000 tenaga kerja tidak langsung.
Penulis: Salvia
Editor: Aliman







