BATAM, DURASI.co.id – Komunitas Kota Hijau Mangsang menyelenggarakan pelatihan ecoenzym untuk menjawab masalah sampah di Kota Batam, Minggu (28/7/2024).
Setelah menggelar pemanasan awal berupa koordinasi dengan masyarakat pada Jumat, 12 Juli 2024 lalu, Komunitas Kota Hijau Mangsang atau biasa disebut Green City Mangsang kembali menggeber acara susulan berupa pelatihan ecoenzym dengan narasumber Thomas AE, seorang aktivis terkenal di Kota Batam yang juga penggiat ecoenzym. Hadir juga pada acara tersebut Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam Eka Surianto.
Ketua Komunitas Kota Hijau Mangsang, Zanuar Maulana Arif mengatakan, semangat dari acara ini adalah membangkitkan aktivitas pilah sampah yang sudah dilaksanakan pihaknya dari tahun 2020 akhir.
“Tentunya kondisi objektif saat ini dimana masalah sampah adalah isu lingkungan dunia, memanggil kami untuk turun kembali dengan tema “Menjawab Solusi Sampah Batam”. Jadi tahun ini sudah masuk tahun ke-4 secara mandiri melakukan aktivitas lingkungan terkait sampah bersama masyarakat,” katanya.
Therapy Detox Ecoenzym
yang menarik dari kegiatan Komunitas Kota Hijau Mangsang ini adalah dengan diperkenalkannya therapy detoksifikasi tubuh sebagai salah satu manfaat ecoenzym.
“Caranya adalah dengan merendam kaki selama 45 menit dengan air hangat yang kemudian dicampur ecoenzym. Syarat untuk melakukan detok ecoenzym ini adalah tidak boleh mengenakan barang yang memiliki unsur logam di badan seperti cincin, ikat pinggang dengan kepala logam dan handphone. Setelah itu setengah badan ke bawah wajib dibungkus rapat dengan menggunakan sarung atau sejenisnya.
Ecoenzym selain bermanfaat untuk kesehatan ternyata juga ampuh untuk meningkatkan hasil pertanian. Manfaat lain adalah ecoenzym mampu memurnikan udara termasuk juga memurnikan air. Jika dituang ke bak mandi dalam takaran tertentu, ecoenzym mampu memurnikan air di bak mandi tersebut. Ecoenzym juga bisa untuk menangani berbagai jenis penyakit kulit dan mengeringkan luka dengan cepat. Ecoenzym juga memiliki kemampuan untuk menyerap radiasi.
“Bayangkan manfaat yang begitu luar biasa, bisa dibuat dari sampah rumah tangga. Tidak sulit melakukannya. Biayanya juga tidak mahal, cukup menggunakan ember bekas dan sisa organik bekas rumah tangga. Saya yakin semua bisa, dan jika ini dilakukan seluruh masyarakat di Batam maka solusi sampah Batam akan teratasi,” ungkapnya.
Lebih lanjut Arif menyampaikan, target dari komunitasnya dalam satu tahun ke depan adalah menyiapkan satu ton ecoenzym untuk nantinya digunakan menyiram Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Punggur.
“Jika dibiarkan dengan kondisinya sekarang, maka TPA Punggur ke depannya dapat menjadi bencana lingkungan dahsyat di Batam. Potensi penyebaran bibit penyakit bisa terjadi. Maka perlu sekali untuk memurnikan udara di TPA tersebut sebagaimana dilakukan di Bali dan daerah lainnya yang sudah menyiram TPA dengan ecoenzym,” jelas Arif.
Sementara itu, aktivis Kota Batam, Thomas AE yang menjadi pemateri dengan piawai membawakan materi pilah sampah dari rumah untuk dimanfaatkan jadi ecoenzym.
“Ecoenzym adalah produk sejuta manfaat yang dibuat dari sisa organik rumah tangga berupa kulit buah dan potongan sayur yang tidak terpakai. Organik lainnya yang tidak bisa dijadikan ecoenzym dapat dimasukkan ke lobang biopori untuk kemudian dijadikan kompos,” demikian penggalan sebagian penjelasan Thomas AE saat membawakan materi.
Kabid Pengelolaan Persampahan DLH Batam, Eka Surianto termasuk salah satu yang mengikuti terapi ecoenzym, dan turut dibungkus menggunakan sarung setengah badan ke bawah. Usai testimoni, Eka Surianto bersaksi bahwa badannya terasa lebih ringan.
“Memang untuk awal masih belum langsung terasa. Tetapi setelah rutin seminggu sekali, manfaatnya akan sangat terasa. Saya satu setengah tahun lagi akan masuk 70 tahun merasakan betul manfaat therapy ecoenzym ini. Sampai sekarang badan saya terasa masih sehat dan energik dan masih mampu jogging selama 30 menit setiap hari,” timpal Thomas AE. (DR)







