KUANSING, DURASI.co.id – Di balik hiruk-pikuk Festival Pacu Jalur dan ragam tradisi budaya Melayu Riau, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) memiliki satu kuliner khas yang tak kalah istimewa, dodol atau dikenal juga dengan sebutan Galamai. Makanan manis berbahan dasar tepung beras, santan, dan gula aren ini telah menjadi kudapan wajib dalam setiap acara adat maupun perayaan keluarga.
Proses pembuatan Dodol tidak bisa dilakukan secara tergesa. Adonan tepung beras dan santan dimasak perlahan bersama gula merah di atas tungku besar, sambil terus diaduk menggunakan sudip kayu panjang.
Dalam bahasa setempat, proses mengaduk ini disebut mangacau galamai. Butuh waktu berjam-jam hingga adonan berubah warna menjadi cokelat pekat dan bertekstur kenyal.
“Kalau tidak sabar, bisa gosong. Kuncinya di api kecil dan adukan yang terus-menerus. Biasanya kami mulai dari pagi sampai menjelang zuhur,” ujar Rosmawati (54), pembuat Dodol dari Kecamatan Sentajo Raya, saat ditemui di dapurnya, Sabtu (25/10/2025).
Menurut Rosmawati, pembuatan Dodol tidak sekadar memasak, melainkan bagian dari tradisi turun-temurun. Ia mengaku belajar membuat Dodol sejak remaja dari ibunya yang dahulu dikenal sebagai pembuat galamai untuk pesta adat di kampungnya.
“Dulu kalau ada acara kenduri atau anak khatam Al-Qur’an, pasti buat Galamai. Waktu itu belum ada kue modern seperti sekarang. Jadi, Galamai ini sudah seperti simbol kebersamaan. Saat memasak, semua iku, ada yang aduk, ada yang potong kayu, ada yang jaga api,” tutur Rosmawati sambil tersenyum mengenang masa lalu.

Walau sudah banyak kue kekinian, Rosmawati ingin Dodol tetap dikenal anak muda sebagai warisan kuliner daerah.
“Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi,” kata Rosmawati menutup perbincangan.
Selain menjadi sajian khas di acara adat, Dodol juga menjadi hidangan nostalgia bagi para perantau asal Kuantan Singingi yang pulang kampung. Randi (33), perantau asal Sentajo Raya yang kini bekerja di Pekanbaru, mengaku setiap pulang ke kampung halaman, Galamai selalu menjadi kuliner pertama yang ia cari.
“Setiap kali pulang, aroma galamai itu langsung terasa di udara. Rasanya membawa saya kembali ke masa kecil. Dulu kami anak-anak kampung sering duduk mengelilingi tungku sambil menunggu galamai matang. Kadang rebutan ingin mencicipi yang masih panas,” ujarnya sambil tertawa.
Randi menambahkan, Galamai bukan sekadar makanan, tetapi juga kenangan tentang kehangatan keluarga dan kebersamaan masyarakat kampung.
“Sekarang saya sering bawa pulang Galamai ke Pekanbaru. Teman-teman di sana selalu minta oleh-oleh, katanya rasanya beda dengan dodol daerah lain, lebih lembut dan wangi,” katanya.
Kini, Galamai tidak hanya dijumpai di acara adat, tetapi juga mulai dikemas modern oleh pelaku usaha kecil. Beberapa rumah produksi bahkan menjual Dodol melalui platform daring agar kuliner tradisional ini tetap dikenal generasi muda.
Penulis: Yopi
Editor: Indra









