BATAM, DURASI.co.id – Setelah sempat meredup, denyut musik jazz di Batam kembali dibangkitkan. Batam Jazz Society (BJS), komunitas yang berdiri sejak 1999, kembali menginisiasi berbagai gelaran musik jazz, melihat potensi Batam sebagai destinasi ajang jazz di luar Pulau Jawa.
Pada awal 2000-an, Batam kerap menjadi tuan rumah konser jazz berskala internasional. Sejumlah musisi mancanegara pernah tampil dalam ajang seperti Batam Jazz Festival yang kemudian berkembang menjadi ASEAN Jazz Festival dengan dukungan Kementerian Pariwisata RI. Selain itu, ada pula Batam Jazz Fashion (Bajafash) dan International Jazz Day yang rutin digelar setiap April.
Tahun ini, selain mengadakan agenda bulanan “Jazzelasa” di berbagai kafe di Batam, BJS menggagas program Jazz Goes To Island (JGTI) untuk memperluas jangkauan musik jazz hingga ke pulau-pulau dan kabupaten/kota di Kepulauan Riau. Gelaran perdana akan berlangsung di Belakang Padang pada 14 Agustus 2025, dengan konsep panggung terbuka di depan Kedai Kopi Ameng, sekaligus memberikan edukasi musik kepada pelajar setempat.
Banyak musisi asal Belakang Padang yang kini aktif di BJS, seperti Cheppy, Josef, dan Julia. Setelah Belakang Padang, JGTI dijadwalkan hadir di Tanjungpinang pada September, Tanjungbalai Karimun pada Oktober, dan Bintan pada November bertepatan dengan ajang Mandiri Bintan Marathon.
“Kami akan melobi pemerintah daerah setempat agar mendukung kegiatan ini,” ujar Ketua BJS, Ryan. Ia menambahkan, kedekatan Kepri dengan Singapura dan Malaysia menjadi nilai tambah, karena kedua negara itu juga rutin mengirim musisinya tampil di berbagai acara jazz di Kepri.
Pendiri BJS, Kang Dian, berharap musik jazz semakin berkembang di Kepri yang kini masuk tiga besar daerah tujuan wisata di Indonesia. Sementara pembina BJS, Buralimar, mengapresiasi dukungan berbagai pihak untuk pelaksanaan perdana JGTI di Belakang Padang. [Mon]







