Kenaikan Harga Telur di Batam Disebabkan Kontrol Pemasok Besar

Telur yang dijual oleh salah satu pedagang tradisional di Batam. (Foto: Christina-Durasi.co.id)

BATAM, DURASI.co.id – Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Batam, Mardanis, menyatakan kenaikan harga telur saat ini tidak lagi dipengaruhi biaya pakan, melainkan dikendalikan sepenuhnya oleh pemasok besar dari luar daerah.

Mardanis menjelaskan, saat ini harga pakan relatif stabil. Namun, pemasok di luar Batam menguasai bibit, pakan, dan obat, sehingga harga ditentukan sejak hulu.

“Kita di Batam hanya memelihara,” kata Mardanis, Sabtu (15/11/2025).

Menurutnya, pemerintah berencana mengambil alih pengelolaan hulu, mulai dari pembangunan kandang hingga penyediaan bibit dan pakan.

“Nanti pemerintah yang bangun kandangnya, sediakan bibit dan pakannya. Peternak tinggal memelihara. Ini yang kami dorong supaya harga lebih stabil,” kata Mardanis.

Baca Juga :  Gelar Media Gathering, Jasa Raharja Kepri Sampaikan Fokus Pencapaian Kinerja 2023

Menanggapi dugaan pedagang mengambil untung berlebihan, Mardanis menegaskan harga di pasar masih wajar.

“Kalau agen jual Rp56 ribu, pedagang jual Rp58 ribu itu wajar. Kadang ritel justru menaikkan harga lebih tinggi,” ujarnya.

Kenaikan konsumsi menjelang Natal dan Tahun Baru juga berkontribusi pada lonjakan harga, biasanya meningkat 10–20 persen setiap tahun.

Ia menambahkan, Pemerintah Kota Batam berencana menggelar operasi pasar khusus untuk telur, minyak goreng, dan cabai. Namun, pelaksanaan memerlukan anggaran besar.

“Kalau keliling, butuh minyak, mobil, dan tenaga. Anggarannya belum disetujui. Nanti kalau NIA, kami buat paket murah, tapi tidak keliling,” jelas Mardanis.

Mardanis mengimbau masyarakat agar tidak membeli secara berlebihan. Permintaan tinggi akibat kepanikan justru mendorong harga naik.

Baca Juga :  BP Batam Terima Kunjungan EHL Campus Singapore

“Jangan panik-panik. Kalau panik membeli, harga akan semakin tinggi. Ini sudah hukum pasar,” tegasnya.

Saat ini, sekitar 80 persen pasokan telur Batam berasal dari Medan, sedangkan peternak lokal di Barelang hanya menyumbang sekitar 20 persen. Pemerintah sedang meninjau kemungkinan membuka pasokan dari daerah lain untuk menstabilkan harga.

“Kalau bisa ambil dari daerah lain, harga bisa lebih bersaing. Kami sedang mempelajarinya,” kata Mardanis.

Sebelumnya diberitakan, beberapa warga mengaku terbebani dengan kenaikan harga telur. “Saya biasanya membeli telur untuk kebutuhan rumah tangga setiap hari, sekarang harus menyesuaikan belanjaan karena harganya mahal,” kata Rina, warga Batam Center.

Hal senada juga disampaikan Agus, warga Batuaji. “Harga naik terus, apalagi kalau beli dalam jumlah banyak. Kami harus pintar-pintar memilih tempat belanja,” ujarnya.

Baca Juga :  Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi, Kepala BP Batam Jamin Kemudahan Investasi

Penulis: Christina
Editor: Indra