DHARMASRAYA, DURASI.co.id – Ada sebuah pepatah tua yang mengatakan bahwa tanah tidak pernah ingkar janji kepada mereka yang merawatnya dengan hati.
Di Ranah Cati Nan Tigo, janji itu kini mewujud nyata melalui tangan dingin Bupati Annisa Suci Ramadhani. Bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan sebuah orkestra kebijakan yang menyentuh langsung akar kehidupan rakyat, yakni sektor perkebunan.
Sambil menyesap secangkir kopi di pagi yang tenang, mari kita maknai angka Rp51 miliar bukan sebagai deretan nol yang dingin, melainkan sebagai aliran darah baru bagi ekonomi kerakyatan. Dana yang bersumber dari BPDPKS dan Kementerian Pertanian ini menjadi bukti bahwa diplomasi dan komitmen mampu menjemput kesejahteraan hingga ke depan pintu rumah petani.
Peremajaan (replanting) lahan seluas 442 hektare di lima kelompok tani bukan sekadar menebang yang tua dan menanam yang muda. Dengan kucuran Rp26 miliar, Annisa menghadirkan konsep “lahan yang terus bernapas”. Di sela bibit sawit unggul, padi gogo dan tanaman tumpang sari mulai tumbuh, memastikan dapur petani tetap mengepul tanpa harus menunggu bertahun-tahun. Ini merupakan literasi ekonomi yang cerdas—harmoni antara investasi masa depan dan ketahanan pangan saat ini.
Pemerintah menyadari bahwa martabat petani tumbuh dari kemandirian. Alokasi Rp25 miliar untuk sarana dan prasarana (sarpras) merupakan bentuk penghormatan tersebut. Pupuk dan pestisida disalurkan kepada enam kelompok tani sebagai sarana menjaga produktivitas. Ditambah dengan 13.800 batang bibit sawit siap salur, Ranah Cati Nan Tigo tengah dipersiapkan menjadi kawasan perkebunan rakyat yang modern dan profesional.
Namun, mahakarya sesungguhnya dari kepemimpinan Annisa terletak pada pandangannya yang melampaui zaman. Ia memahami bahwa kebun yang subur membutuhkan sumber daya manusia yang cerdas. Program beasiswa anak petani sawit bagi 107 penerima hingga 2026 menjadi investasi penting. Ia tidak hanya membangun kebun, tetapi juga membangun manusia. Anak-anak Dharmasraya kini memiliki kesempatan untuk meraih pendidikan tinggi dan kembali membangun tanah ulayat dengan ilmu pengetahuan.
Sebelum cangkir kopi Anda kosong, bayangkan aroma kopi yang akan merebak dari 2.000 hektare lahan baru pada Agustus 2026. Diversifikasi ini merupakan langkah visioner agar ekonomi daerah tidak hanya bertumpu pada satu komoditas. Dharmasraya bergerak maju dengan langkah terukur, berwibawa, dan meyakinkan.
“Pembangunan sejati adalah ketika masyarakat merasa memiliki masa depan di tanah kelahirannya sendiri.”
Di bawah langit Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani telah menanam lebih dari sekadar bibit; ia menanam kepercayaan. Kepercayaan itulah yang akan tumbuh menjadi kemakmuran bagi masyarakat Ranah Cati Nan Tigo.
Perjalanan menuju kemakmuran memang tidak pernah instan. Ia membutuhkan keteguhan seperti akar sawit dan kesabaran seperti menunggu aroma kopi merebak. Namun, di bawah arahan Bupati Annisa Suci Ramadhani, langkah tersebut kini terasa lebih ringan dan pasti. Dana Rp51 miliar hanyalah permulaan dari narasi besar yang tengah ditulis bersama di tanah ulayat ini.
Kini, tanggung jawab ada di tangan kita. Mari kita kawal setiap bibit yang ditanam, menjaga setiap pupuk yang disalurkan, serta mendukung anak-anak yang menempuh pendidikan melalui program beasiswa tersebut. Pembangunan sejati bukan hanya tentang apa yang diberikan pemerintah, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat Dharmasraya menyambutnya dengan semangat gotong royong.
Jadikan momen ini sebagai titik balik untuk membuktikan bahwa petani Dharmasraya adalah petani yang modern, berwawasan, dan mandiri. Mari kita pastikan pada 2025 dan 2026, dunia tidak hanya mengenal Ranah Cati Nan Tigo dari sejarahnya, tetapi juga dari kemajuan hasil buminya.
“Satu batang bibit yang kita tanam hari ini adalah napas kehidupan bagi generasi masa depan.” [Sonia]







