ACEH TAMIANG, DURASI.co.id – Di bawah temaram lampu posko induk yang tak redup saat jam mulai tinggi, sosok itu masih duduk tegak. Di depannya, tumpukan data dan laporan pendistribusian logistik menjadi kawan setianya. Beliau adalah Ismail, Wakil Bupati Aceh Tamiang, yang belakangan ini seolah “menghapus” kata pulang dari kamusnya demi mendampingi warga pasca-banjir bandang yang menerjang Bumi Muda Sedia pada bulan November 2025.
Bagi Ismail, waktu bukan lagi deretan angka di arloji, melainkan setiap detik yang sangat berharga untuk memastikan tidak ada satu pun warga yang kelaparan atau merasa ditinggalkan.
Sejak hari pertama dibukanya posko bencana, Ismail memilih untuk standby diposko induk. Kehadirannya bukan sekadar seremonial pejabat. Ia terlihat membaur berdiskusi dengan stakeholder dan satgas Pulbelcan.
Kehadiran Ismail yang nyaris 24 jam di posko induk memberikan dampak psikologis yang besar bagi para relawan. Di tengah rasa lelah yang menghinggapi para petugas di lapangan, sosok Wakil Bupati ini justru menjadi “baterai” penyemangat.
Kisah “tidak mengenal lelah” ini tertuang dalam rutinitasnya yang nyaris tanpa jeda. Seringkali, ia sempat terlihat hanya beristirahat sejenak diantara tumpukan logistik dengan kepala terbaring kesamping kanan, sebelum ia kembali terjaga saat mobil pengangkut bantuan logistik datang.
Meski kini, empat puluh dua hari pasca banjir bandang, Ismail menegaskan bahwa perjuangan belum selesai. Masa rehabilitasi dan rekonstruksi adalah ujian kesabaran yang sesungguhnya.
”Lelah itu manusiawi, tapi melihat senyum warga kembali adalah energi yang luar biasa. Kita akan bangkit bersama,” pungkas Ismail dengan nada optimis.
Dedikasi Ismail di posko induk menjadi bukti bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya lahir dari kebijakan di atas kertas, tetapi dari langkah kaki yang bersedia kotor oleh lumpur dan mata yang terjaga demi kenyamanan mereka yang dipimpin. [Andre]







