ACEH TAMIANG, DURASI.co.id – Bencana alam sering kali meninggalkan luka mendalam bagi para korbannya. Namun, di balik itu semua, harapan baru justru tumbuh melalui kepedulian dan inovasi nyata. Bagi warga Aceh Tamiang yang terdampak banjir bandang, kehadiran huntara atau hunian sementara bukan sekadar atap pengganti, melainkan tempat tinggal layak yang selama ini diimpikan.
Huntara hadir sebagai solusi konkret bagi para penyintas untuk kembali menemukan arti kehidupan di tengah masa sulit. Di lokasi ini, kenyamanan dalam berteduh memiliki makna yang sangat berharga karena mampu mengubah fase pemulihan yang berat menjadi lebih manusiawi dan penuh optimisme.
Sebagai bagian dari penanganan darurat pascabencana, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui PT Wijaya Karya (Persero) Tbk membangun hunian sementara berkonsep modular. Pembangunan ini dilakukan secara strategis dan tersebar di beberapa titik penting untuk menjangkau masyarakat secara efektif.
Lokasi pertama, Huntara I, terletak di Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru, tepat di belakang Kantor DPRK Aceh Tamiang. Titik ini menjadi salah satu pusat pemulihan awal bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat luapan air.
Selanjutnya, Huntara II berlokasi di depan SMP Negeri 1 Karang Baru, sementara Huntara III saat ini sedang dalam proses pembangunan intensif di Kampung Bukit Rata. Lokasi ketiga ini sangat strategis karena berada di sepanjang Jalan Lintas Medan–Banda Aceh.
Setiap unit huntara dibangun dengan struktur yang sangat kokoh untuk menjamin keamanan penghuninya. Satu modul terdiri atas 12 pintu hunian yang disusun saling membelakangi serta dilengkapi fasilitas sanitasi lengkap yang terpisah antara pria dan wanita guna menjaga privasi.
Rahmadina Alya, yang akrab disapa Mbak Rere, selaku Senior Advisor for Assessment Divisi Quality Control pada Proyek Tanggap Darurat PT WIKA, menjelaskan teknis pengerjaan proyek ini. Ia menyebutkan bahwa saat ini terdapat total 12 modul yang sedang dikebut pengerjaannya.
Keistimewaan huntara ini terletak pada penggunaan sistem struktur baja modular MOLI yang berdesain modern dan inovatif. Teknologi ini memungkinkan proses pemasangan dilakukan secara cepat tanpa memerlukan bantuan alat berat di lokasi.
“Teknologi ini mempercepat waktu konstruksi sekaligus meminimalkan dampak gangguan terhadap kondisi tanah di sekitar area pembangunan,” ungkap Mbak Rere saat menerima kunjungan tim media pada Senin (20/4/2026), didampingi Safety Officer, Mas Rendy.
Selain kecepatan, desain bangunan juga sangat memperhatikan kenyamanan iklim tropis Indonesia. Bagian atap dilapisi aluminium foil untuk meredam suhu panas sehingga suasana di dalam ruangan tetap sejuk meski cuaca di luar sedang terik.
Fasilitas pendukung yang disediakan pun dirancang menyerupai kompleks perumahan klaster yang layak huni. Tidak hanya bangunan utama, pengembang juga menyediakan musala sebagai fasilitas umum serta area terbuka untuk interaksi sosial antarwarga.
Sektor sanitasi dan air bersih pun tak luput dari perhatian, dengan penggunaan instalasi pengolahan limbah biotek berkapasitas 5 m³ per blok. Listrik juga telah terhubung langsung dengan jaringan PLN, ditambah dengan penataan taman hijau di setiap kavling hunian.
Bagi tim pelaksana, proyek ini memiliki nilai emosional yang lebih dari sekadar pekerjaan konstruksi biasa. Mbak Rere menegaskan bahwa ini adalah wujud nyata hadirnya pemerintah melalui WIKA untuk menyediakan hunian yang bermartabat bagi masyarakat.
Inisiatif pembangunan ini selaras dengan semangat Asta Cita, terutama dalam penguatan ketahanan masyarakat dan perlindungan warga dalam situasi darurat. WIKA berkomitmen untuk terus menghadirkan solusi infrastruktur yang cepat, aman, dan berkelanjutan.
Kini, dengan adanya kepastian tempat tinggal, aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat Aceh Tamiang perlahan mulai bangkit kembali. Huntara WIKA membuktikan bahwa hunian sementara mampu memberikan suasana hangat dan harmoni maksimal pada masa pemulihan pascabencana. [Andre]
Pemulihan Aceh Tamiang, Huntara PU-WIKA Jadi Harapan Baru








