ACEH TAMIANG, DURASI.co.id – Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Muhammad Farij, memberikan penjelasan detail mengenai mekanisme penyaluran bantuan daging sapi meugang dari Presiden RI. Langkah ini dilakukan untuk memastikan transparansi data kepada masyarakat, mengingat bantuan tersebut menyasar 93.991 kepala keluarga (KK) di 210 kampung yang terdampak banjir.
“Sebenarnya semua ini bisa didiskusikan dengan baik, apalagi di bulan suci Ramadan ini. Berdasarkan konfirmasi kami dengan Dinas Pertanian dan Peternakan, sapi bantuan ini telah tiba di Aceh Tamiang sekitar seminggu sebelum hari meugang,” ujar Farij, Jumat (20/2/2026).
Diketahui, total anggaran bantuan ini mencapai kurang lebih Rp10,5 miliar (tepatnya Rp10.499.970.000). Dana tersebut digunakan untuk pengadaan 455 ekor sapi dengan total bobot hidup mencapai 161.538 kilogram.
Farij juga merinci bahwa harga Rp65.000 per kilogram sapi hidup sudah mencakup biaya penunjang lainnya sehingga tidak ada pungutan tambahan di lapangan. Biaya tersebut meliputi Pajak Penghasilan (PPh), ongkos sembelih dan jasa pencacahan daging, serta penyediaan plastik pembungkus dan terpal plastik.
Mengenai porsi yang diterima masyarakat, Farij menjelaskan bahwa setiap KK mendapatkan jatah berdasarkan perhitungan karkas atau daging bersih, yakni 35 persen dari bobot hidup.
“Dari total 161.538 kilogram sapi hidup, diperoleh daging bersih atau karkas sekitar 56.388 kilogram. Jika dibagi kepada 93.991 KK, setiap keluarga mendapatkan kurang lebih 0,6 kilogram atau 6 ons daging bersih,” jelasnya.
Farij menegaskan bahwa angka 6 ons tersebut murni daging. Jumlah yang dibawa pulang warga sebenarnya lebih banyak jika ditambah dengan komponen lain seperti tulang, jeroan, kulit, hingga ekor yang turut dibagikan secara merata.
Menutup penjelasannya, Muhammad Farij mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melihat bantuan ini sebagai bentuk kepedulian bersama di bulan yang penuh berkah.
“Kami berharap bantuan ini dapat bermanfaat bagi saudara-saudara kita, terutama yang terdampak musibah banjir, agar tetap dapat merayakan tradisi meugang bersama keluarga. Mari kita jaga suasana tetap kondusif dan penuh kekeluargaan, karena semangat Ramadan adalah semangat berbagi dan saling memahami,” pungkasnya. [Andre]










