DHARMASRAYA, DURASI.co.id – Pemerintah Kabupaten Dharmasraya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang melanda wilayah tersebut.
Langkah tersebut dilakukan dengan mengerahkan personel, armada pemadam, fasilitas kesehatan, hingga pemantauan titik panas melalui teknologi satelit. Upaya ini dilakukan menyusul kondisi kering ekstrem yang dipengaruhi fenomena El Nino Godzilla 2026.
Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani menginstruksikan jajaran pemerintah daerah untuk memperkuat langkah pencegahan sejak dua minggu sebelum kondisi diperkirakan mencapai puncaknya.
Instruksi tersebut kemudian ditindaklanjuti Sekretaris Daerah Dharmasraya Medison melalui koordinasi bersama TNI, Polri, serta aparatur pemerintahan mulai dari tingkat kecamatan hingga nagari.
Untuk mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran, Satpol PP dan Damkar Dharmasraya menyiagakan 66 personel dengan dukungan lima unit armada pemadam.
Personel tersebut ditempatkan pada lima pos kedaruratan yang beroperasi selama 24 jam. Kelima pos itu berada di Pulau Punjung, Blok B Sitiung 1, Timpeh, Koto Baru, dan Sungai Rumbai.
Sistem deteksi dini juga terus diaktifkan untuk memantau potensi titik api. Sejumlah wilayah yang sempat terdeteksi memiliki potensi kebakaran, antara lain Kecamatan Timpeh, Koto Baru, Koto Besar, Koto Salak, dan Sungai Rumbai.
Titik api yang muncul di sejumlah kawasan tersebut dapat segera diisolasi dan dipadamkan sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Sementara itu, kabut asap cukup pekat sempat menyelimuti Dharmasraya pada 23 hingga 24 Agustus 2026. Kondisi tersebut berdampak terhadap kualitas udara yang berada pada kategori kurang sehat hingga tidak sehat.
Pemkab Dharmasraya kemudian melakukan pemantauan melalui aplikasi SiPongi+ (Sistem Pemantauan Karhutla). Pemantauan dilakukan BPBD bersama Dinas Lingkungan Hidup untuk mengetahui sumber munculnya kabut asap.
Kalaksa BPBD Dharmasraya Suherman Junaidi mengatakan, berdasarkan pemantauan tersebut, aktivitas kebakaran di wilayah Dharmasraya relatif sedikit dengan luasan yang terbatas.
“Kondisi itu mengindikasikan bahwa kabut asap yang dirasakan masyarakat kemungkinan berasal dari wilayah di luar Kabupaten Dharmasraya atau merupakan polusi lintas batas (transboundary haze),” katanya, Sabtu (5/9/2026).
Meski demikian, pemerintah daerah tidak mengurangi tingkat kewaspadaan. Berbagai langkah pencegahan tetap dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya karhutla di wilayah Dharmasraya.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat patroli dan pemantauan titik panas melalui lima pos pemadam kebakaran serta sistem pemantauan SiPongi+ secara waktu nyata.
Di bidang kesehatan, Pemkab Dharmasraya mendistribusikan sedikitnya 4.000 masker kepada masyarakat. Edukasi mengenai dampak polusi udara juga dilakukan, sementara seluruh fasilitas kesehatan diminta meningkatkan kesiapsiagaan selama 24 jam.
Antisipasi juga dilakukan terhadap sektor pertanian. Pemerintah daerah menyiapkan dan memobilisasi mesin pompa air darurat untuk menghadapi ancaman kekeringan yang dapat mengganggu lahan produktif masyarakat.
Dari sisi pencegahan dan penegakan aturan, Pemkab Dharmasraya bersama Forkopimda, camat, dan wali nagari memperkuat komitmen melalui Deklarasi Bersama Anti-Karhutla.
Deklarasi tersebut menjadi pakta integritas untuk mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar. Komitmen itu ditandatangani Wakil Bupati Dharmasraya bersama jajaran Forkopimda, termasuk Polsek jajaran, para camat, serta seluruh wali nagari.
Bupati Annisa juga menegaskan pentingnya kesiapsiagaan seluruh unsur pemerintah dalam menghadapi dampak kabut asap dan potensi karhutla.
Meskipun hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mulai mengguyur sejumlah wilayah Dharmasraya, kesiapsiagaan tetap dipertahankan. Pemerintah daerah terus mengandalkan kesiapan personel dan armada, pemantauan berbasis teknologi, serta koordinasi lintas sektor untuk menjaga wilayah dari ancaman karhutla. [Sonia Chaniago]









