Aceh  

Banjir Bandang Telah Berlalu, Sisa Lumpur Menciptakan Debu

Kondisi jalan lintas negara Medan-B, Aceh, Selasa (6/1/26). Foto: Andre/Durasi.co.id

ACEH TAMIANG, DURASI.co.id – Matahari baru saja naik setinggi galah, namun udara di bumi muda sedia tak lagi segar. Alih-alih aroma tanah basah yang menenangkan, bau amis sisa material sungai dan debu halus yang menyesakkan dada kini menyelimuti setiap sudut kota. Tiga puluh sembilan hari sudah pasca banjir bandang menerjang, air memang telah surut, namun perjuangan warga justru baru saja dimulai.

​Sejauh mata memandang, warna hijau kini telah berganti menjadi abu-abu kecokelatan. Lumpur tebal puluhan sentimeter mengeras di dalam rumah-rumah warga, memerangkap perabotan, buku sekolah anak-anak, hingga kenangan yang tak sempat terselamatkan.

Garis kehidupan yang berubah dalam sekejap menunjukan salah satu warga terdampak, tampak melangkah ditepi jalan aspal yang tak lagi hitam berlapis keringan lumpur dan debu halus.

Baca Juga :  Jalan Sentosa Rusak Parah dan Berlubang, Warga Soroti Pembiaran oleh PUPR dan Pemda Simeulue

Ada juga warga yang terduduk lemas di depan teras rumahnya yang kini tertutup lapisan tanah kering. Di tangannya, sebuah foto keluarga yang bingkainya pecah sedang dibersihkan dengan ujung daster yang juga kotor.

​”Air datang lewat suara gemuruh, bukan lagi suara hujan. Hanya dalam hitungan menit, semuanya hilang. Sekarang, kalau siang kami makan debu, kalau membersihkan kami bergulat dengan lumpur yang beratnya seperti batu,” tutur warga itu dengan suara serak.

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pemulihan tidak akan berjalan singkat. Relawan dan petugas gabungan bahu-membahu mengikis lumpur yang mulai membatu dan menggotong puing yang mulai berjamur dan berkarat. Namun, kendala utama saat ini adalah akses air bersih yang terputus akibat rusaknya pipa-pipa distribusi saat diterjang arus.

Baca Juga :  Rektor Unimal Hadiri Acara Puncak Hari Pers Nasional 2024 dan HUT PWI

​Selain kehilangan harta benda, ancaman kesehatan kini mengintai. Debu sisa lumpur yang mengering mulai beterbangan ditiup angin, memicu infeksi saluran pernapasan (ISPA) bagi warga, terutama anak-anak dan lansia.

​Harapan, ​meski duka masih menggelayut, semangat warga untuk bangkit tetap menyala. Di tengah debu yang pekat, tampak lalu-lalang aktifitas di jalan raya, mungkin mereka tak lagi hiraukan kesehatan diri demi meraih asa.

Banjir bandang mungkin telah berlalu, namun sisa lumpur dan debu ini menjadi pengingat bisu betapa rentannya manusia di hadapan alam, sekaligus saksi ketangguhan mereka yang menolak menyerah pada keadaan. [Andre]