ACEH TAMIANG, DURASI.co.id – Menindaklanjuti instruksi Bupati Aceh Tamiang terkait peningkatan populasi nyamuk pascabencana banjir, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Aceh Tamiang bergerak cepat melakukan langkah preventif.
Bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Binjai dan Balai Karantina Kesehatan Lhokseumawe, Dinkes Aceh Tamiang menggelar aksi fogging (pengasapan) massal dan abatisasi secara komprehensif di wilayah terdampak.
Kepala Dinas Kesehatan Aceh Tamiang, Mustakim, menyampaikan bahwa kolaborasi ini dimediasi langsung oleh Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Langkah ini diambil untuk menekan risiko lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) dan malaria yang rentan terjadi akibat banyaknya genangan air sisa banjir.
Hingga hari ini, tim gabungan telah menyisir 9 kecamatan dari total 12 kecamatan yang menjadi sasaran, meliputi Kecamatan Kota Lintang, Kuala Simpang, Karang Baru, Rantau, Tamiang Hulu, Simpang Kiri, Kejuruan Muda, Bandar Pusaka, Manyak Payed, dan Sekerak.
Menurutnya, operasi ini didukung oleh tujuh tim dari Dinkes Kota Binjai, dua tim dari Dinkes Aceh Tamiang, serta tim relawan dari Pusat Krisis Kemenkes RI.
Mustakim mengakui bahwa saat ini Aceh Tamiang mengalami kendala keterbatasan sarana. Dari 12 kecamatan yang ada, Dinkes hanya memiliki dua unit alat fogging yang berfungsi, sementara unit lainnya mengalami kerusakan berat akibat terendam banjir beberapa waktu lalu.
“Kondisi alat kami terbatas karena banyak yang rusak terendam banjir. Namun, melalui kolaborasi dengan Dinkes Kota Binjai, kami mendapatkan bantuan luar biasa, baik berupa alat, tenaga medis, hingga bahan obat-obatan. Ini adalah bentuk optimalisasi pelayanan kami agar kebutuhan masyarakat di masa bencana tetap terpenuhi,” ujar Mustakim kepada awak media saat berada di Pendopo Bupati, Sabtu (7/2/2026).
Kegiatan ini tidak hanya berhenti pada pengasapan. Mustakim menegaskan bahwa tindakan ini akan dilakukan secara bertahap dan simultan.
Adapun tujuan kegiatan ini, di antaranya menyasar permukiman dan lokasi pengungsian serta pemberian bubuk abate di sumur warga dan genangan air oleh petugas surveilans puskesmas untuk membunuh jentik nyamuk (larvasida).
Selain itu, setelah fase darurat selesai, sasaran fogging selanjutnya akan difokuskan pada daerah dengan status risiko tinggi (endemis).
“Hari ini tim bergerak masif. Khusus di Kota Lintang dan Kuala Simpang, kami pastikan area pengungsian bersih dari nyamuk melalui fogging. Selain itu, kami juga melakukan larvasida atau pemberian abate di gorong-gorong dan selokan di sekitar tenda pengungsian,” ujar Mustakim.
Meskipun fogging dan abatisasi terus dilakukan, Mustakim menekankan bahwa kunci utama pencegahan adalah kebersihan lingkungan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan 3M (mengubur, menguras, menutup). Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, namun gotong royong membersihkan sampah dan genangan merupakan cara paling efektif memutus rantai jentik nyamuk. Kami meminta warga di pengungsian untuk membuang sampah pada tempatnya agar tidak menjadi sarang penyakit,” pungkasnya.
Dinas Kesehatan Aceh Tamiang berkomitmen untuk terus memantau perkembangan situasi di lapangan hingga kondisi kesehatan masyarakat benar-benar stabil pascabencana. [Andre]









