Oleh: Aliman Oemar
DULU, tulisan ini sempat menjadi kebanggaan, tetapi hampir pupus dihapus kepentingan. Saya percaya itu bukan Prabowo Sang Presiden, tetapi “entahlah siapa” yang khawatir dimarahi Presidennya.
Luar biasa memang. Semoga memang cerita dulu. Itulah catatan penting dari seorang ksatria di tanah yang berjuluk Nusantara, Negeri Katulistiwa.
Hampir 15 tahun perjuangannya tidak pernah berhenti untuk membangun bangsa ini, bahkan lebih, ketika harus menghitung dari awal perjuangan.
Lima belas tahun terakhir, beliau mengikuti kontestasi kepemimpinan nasional dan takdir Allah memang belum menyampaikannya pada titik yang sekarang.
Salut dan takjub dengan segala upayanya. Dan sangat benar, bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Bergumul dengan segala ikhtiar berhasil menghantarkannya pada posisi mampu meyakinkan 96 juta rakyat Indonesia, bahkan lebih, sebagai Presiden Terpilih Republik Indonesia pada kontestasi Pemilihan Presiden–Wakil Presiden yang diselenggarakan pada 14 Februari 2024 oleh KPU dan seluruh jajaran pelaksana dari tingkat pusat, daerah, bahkan sampai ke pelosok desa, di atas gunung, di lembah, di seberang lautan, hingga di pinggiran sungai Indonesia. Itulah negeri tercinta, Indonesia.
Waktu pelaksanaan Pemilihan Umum 14 Februari 2024 sangat bertepatan dengan apa yang biasa disebut kaum muda sebagai Hari Kasih Sayang.
Mungkin Allah SWT sedang mengirimkan pesan: Hari ini Aku pilihkan dengan takdir-Ku, kata Allah. Seorang hamba-Ku yang akan mewariskan begitu banyak kasih sayang. Subhanallah.
Dan sepak terjangnya, ternyata memang memerlukan kesabaran dan keikhlasan untuk manisnya sebuah ikhtiar: Bagimu Negeri, Jiwa Raga Kami.
Alhamdulillah, penetapan terjadi pada 22 April 2024. Sah menurut hukum, sah menurut sosial, dan sah bersama seluruh rakyat Indonesia. Merdeka!
Ada yang sangat menarik memang. Pada kesempatan pertamanya bersama Wakil Presiden Terpilih Pemilu 2024, sang jenderal yang bernama Prabowo Subianto bersama Gibran Rakabuming Raka menyampaikan kepada semua pihak, baik kawan maupun lawan, rasa terima kasih atas kepercayaan yang kelak akan dipikulnya untuk Indonesia yang adil, Indonesia yang makmur, dan Indonesia yang bermartabat.
Ada kegembiraan bagi saya sebagai wartawan, bahwa Sang Presiden senantiasa menghadirkan kegembiraan ketika mengatakan: “Terima kasih, rekan-rekan pers,” yang sudah menjadi saksi sejarah memberitakan dan menemani seluruh proses yang terjadi.
Bukan sekali, dua kali, bahkan berkali-kali beliau mengutip peran pers. Saya harus berani mengatakan: Bapak memang luar biasa. Tetapi ada juga yang tersampaikan olehnya, bahwa kadang-kadang pers juga menyakitkan. Ya, itulah pers.
Dalam sambutan Presiden Terpilih Pemilu 2024, beliau menyebut: “Mari kita bersama bangun negeri tercinta kita, Indonesia.”
Syukuri sebagai kehendak Yang Maha Berkehendak. Selamat datang, Sang Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Sebagai pelaku pers, kami bangga senantiasa disebut oleh Sang Presiden. Kami juga akan bangga menulis dan bercerita kepada penerus kami bahwa pers memiliki Presiden yang peduli akan keberadaan pers. Selamat Pak Presiden Terpilih. Selamat Pak Wakil Presiden Terpilih.
Kini, ada secercah kekhawatiran ketika identitas rekan wartawan diambil pihak istana. Saya meyakini bukan untuk apa-apa, tetapi koreksi memang mesti ada. Dan harus ada dari siapa pun yang menamakan dirinya wartawan.
Dan nanti, suara itu mesti ada, harus ada baik maupun buruk. Karena kita, Indonesia, harus menjadi raya yang sebenarnya, walau ketukan dan iramanya belum senada. Perlu simfoni yang saling mengisi dalam frekuensi seirama.
Merdeka, merdeka, merdeka.
Penulis adalah Pemimpin Redaksi







