Aceh  

Harapan Pengungsi Banjir Aceh Tamiang Bertumpu pada Relawan dan Dermawan

Evi, pengungsi banjir Aceh Tamiang terlihat di area posko saat menanti bantuan logistik. (Foto: Andre-Durasi.co.id)

ACEH TAMIANG, DURASI.co.id – Bencana banjir bandang yang menghantam Kabupaten Aceh Tamiang telah bergeser dari fase darurat penyelamatan ke fase pemulihan dan pemenuhan kebutuhan dasar. Namun, kondisi ribuan pengungsi di berbagai posko menunjukkan bahwa mereka kini sangat bergantung pada solidaritas dan kedermawanan masyarakat umum serta relawan untuk bertahan hidup dan memulai kembali kehidupan mereka.

Meskipun pemerintah daerah telah berupaya mendistribusikan bantuan logistik, skala kerusakan yang masif dan jumlah korban yang mencapai ribuan jiwa membuat bantuan tersebut terasa belum mencukupi. Di sinilah peran vital relawan dan organisasi kemanusiaan menjadi tumpuan utama.

Evi (48), salah satu pengungsi di Posko Gedung DPRK Aceh Tamiang, mengungkapkan perasaannya.

Baca Juga :  Pikiran Rakyat dan SPS Aceh Wujudkan Pembangunan Gedung Serbaguna untuk Korban Banjir Aceh Tamiang

“Kami hanya bisa pasrah. Rumah kami masih terendam lumpur yang sangat tebal. Untuk makan sehari-hari, mendapatkan pakaian kering, bahkan untuk susu anak-anak, kami sangat berharap pada bantuan yang datang dari posko-posko relawan. Mereka membantu membagikan sembako, tilam, obat-obatan, dan pakaian layak pakai,” ujarnya lirih, Senin (8/12/2025).

Kebutuhan mendesak saat ini meliputi pakaian kering dan selimut, obat-obatan dan layanan kesehatan, misalnya kasus penyakit kulit, ISPA, dan diare yang mulai meningkat—perlengkapan bayi seperti popok dan susu formula, serta bahan bangunan untuk memulai pembersihan lumpur dan perbaikan rumah semi permanen.

Para relawan, baik dari komunitas, mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga yayasan dari luar Aceh Tamiang, menjadi garda terdepan yang mengisi kekurangan logistik. Mereka tidak hanya membawa barang, tetapi juga semangat dan pendampingan psikologis.

Baca Juga :  Kepala Desa Suka Jaya Dampingi Ibu PKK Bagikan Takjil di Sekitar SPBU Sinabang

Salah satu koordinator kelompok relawan yang tidak ingin disebut namanya menyampaikan bahwa mereka bergerak berdasarkan informasi langsung dari lapangan.

“Kami menyerahkan langsung bantuan ini. Kami telah berusaha keras menjangkau semua titik. Kami juga akan fokus pada desa-desa terpencil yang sulit diakses. Kami bergotong royong mengumpulkan donasi dari para dermawan di luar daerah, dan alhamdulillah, itu yang kini menjadi nadi bagi para pengungsi,” jelasnya.

Namun, mengingat proses pemulihan pascabencana akan memakan waktu berbulan-bulan, para pengungsi dan relawan menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia, khususnya para dermawan, untuk tidak menghentikan bantuan.

Harapan terbesar para pengungsi kini bukan hanya untuk makan hari ini, melainkan agar mereka dapat membangun kembali fondasi kehidupan.

Baca Juga :  Prioritaskan K3, PT WIKA Gelar Safety Briefing Pascapembersihan Lumpur di Aceh Tamiang

Mereka membutuhkan bantuan modal untuk usaha kecil yang hanyut, bantuan untuk membeli kembali peralatan sekolah anak-anak, serta dukungan mental untuk mengatasi trauma bencana.

“Kami tahu pemerintah berupaya, tetapi kami juga memohon belas kasih dari seluruh saudara kami. Jangan lupakan kami. Tolong bantu kami berdiri kembali,” tutup Ibu Evi, mewakili jeritan hati ribuan korban banjir bandang di Aceh Tamiang.

Penulis: Andre
Editor: Indra