Sumut  

Harga Beras Naik Drastis, Warga Nias Barat Menjerit

Ilustrasi. (Foto: Dok Durasi.co.id)

NIAS BARAT, DURASI.co.id – Harga kebutuhan pokok, terutama beras, terus mengalami kenaikan di Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara. Lonjakan harga ini dikeluhkan warga, khususnya ibu rumah tangga dan pedagang kecil, karena berdampak langsung pada pengeluaran harian mereka.

Kenaikan harga beras yang terjadi dalam beberapa hari terakhir dinilai semakin membebani masyarakat, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih pascapandemi.

Sejumlah warga menyampaikan keluhannya, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Salah satunya, Niada Waruwun, warga Desa Hilimbuasi, Kecamatan Lolofitu Moi, mengaku terkejut ketika mengetahui harga beras naik drastis dari Rp22.000 menjadi Rp26.000–Rp28.000 per liter.

“Biasanya saya beli satu karung untuk kebutuhan sebulan. Sekarang harus dikurangi karena uangnya tidak cukup. Belanja lain pun ikut dipangkas,” ujarnya, Sabtu (2/8/2025).

Baca Juga :  Dengarkan Keluh Kesah Masyarakat, Polres Nias Gelar Kegiatan Jumat Curhat

Keluhan serupa disampaikan Ririn Waruwu, seorang pedagang kecil. Ia mengatakan, kenaikan harga beras turut menurunkan daya beli masyarakat di lapaknya.

“Dulu orang beli 5 sampai 10 liter per minggu. Sekarang paling 5 liter, bahkan kurang. Jualan makin susah karena orang-orang sekarang lebih hemat,” kata Ririn.

Warga menyebut, kenaikan harga beras tidak dibarengi dengan peningkatan pendapatan. Hal ini menciptakan kesenjangan antara kebutuhan pokok dan kemampuan finansial masyarakat. Beberapa keluarga bahkan mulai beralih ke sumber pangan alternatif seperti ubi dan jagung.

Masyarakat berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk mengatasi persoalan ini. Mereka mendesak adanya langkah konkret seperti operasi pasar murah, distribusi beras dari cadangan pemerintah, atau subsidi harga bagi warga kurang mampu.

Baca Juga :  Rasyid Assaf Dongoran Hantarkan Formulir Bacalon Bupati Tapsel ke Golkar

“Kami butuh solusi,” ungkap seorang ibu rumah tangga asal Kecamatan Lahomi.

Selain itu, warga juga meminta pemerintah memperketat pengawasan distribusi bahan pokok agar tidak terjadi penimbunan atau permainan harga oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Masyarakat menduga kenaikan ini bukan semata karena kelangkaan, melainkan akibat spekulasi pasar atau distribusi yang tidak efisien. Mereka menanti kejelasan penyebab lonjakan harga, agar dapat memahami kondisi yang sebenarnya.

Melonjaknya harga beras menjadi pengingat bahwa stabilitas harga pangan sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat. Jika dibiarkan berlarut-larut, situasi ini dikhawatirkan memicu keresahan sosial dan berdampak pada sektor ekonomi lainnya.

Warga Nias Barat kini menanti langkah nyata dari pemerintah sebagai wujud kepedulian terhadap kebutuhan dasar rakyat. [Odal Zai]