BATAM, DURASI.co.id – Kebakaran melanda kapal tanker Elsa Regent yang tengah bersandar di KCP Jetty, kawasan PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, Kecamatan Batu Aji, Kota Batam, Minggu (25/1/2026) siang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa kebakaran tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Hingga Minggu sore, upaya pemadaman masih terus dilakukan oleh petugas di lokasi kejadian.
Kepulan asap hitam tampak membumbung tinggi ke udara dan terlihat dari sejumlah titik di sekitar kawasan galangan kapal.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Diky Wijaya, mengatakan proses pemadaman masih berlangsung.
“Upaya pemadaman sedang dilakukan,” ujar Diky.
Ia memastikan tidak terdapat korban jiwa dalam insiden tersebut. Menurutnya, kapal tidak sedang beroperasi dan dalam kondisi kosong saat kebakaran terjadi.
“Awak kapal nihil. Tidak ada korban luka maupun meninggal dunia karena kapal memang dalam keadaan kosong,” katanya.
Diky menambahkan, kapal Elsa Regent merupakan kapal pengangkut minyak mentah milik anak perusahaan Pertamina Indonesia.
Namun, kebakaran ini bukan peristiwa tunggal. Dalam catatan Durasi.co.id, PT ASL Shipyard berulang kali menjadi lokasi kecelakaan kerja fatal, terutama yang berkaitan dengan aktivitas berisiko tinggi seperti pengelasan, pengecatan, serta pekerjaan kelistrikan di ruang terbatas.
Tragedi terbesar terjadi pada Rabu (15/10/2025) dini hari, ketika kapal tanker Federal II meledak. Peristiwa tersebut menewaskan 12 pekerja dan melukai puluhan lainnya. Ironisnya, kapal yang sama juga pernah terbakar sebelumnya pada 24 Juni 2025 dan menewaskan empat pekerja. Kepolisian saat itu menyebut lemahnya pengendalian pekerjaan panas sebagai pemicu utama kebakaran.
Sebelum itu, kebakaran hebat kapal tanker Gamkonora pada 7 September 2017 menewaskan lima pekerja subkontraktor. Pada 17 September 2015, seorang pekerja bernama Hanafi meninggal dunia setelah terseret jangkar kapal ke laut. Bahkan pada akhir 2025, seorang pekerja subkontraktor kembali meninggal dunia akibat tersengat listrik saat melakukan pengecatan kapal.
Ketua Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Logam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PC SPL FSPMI) Kota Batam, Suprapto, menilai insiden kebakaran yang kembali terjadi di PT ASL Shipyard mencerminkan lemahnya peran negara dalam menjamin keselamatan dan kesehatan kerja buruh.
“Ini bukan sekadar kecelakaan kerja, melainkan kegagalan sistemik. Jika satu perusahaan berulang kali mengalami insiden, berarti ada persoalan serius dalam pengawasan dan penegakan aturan,” ujar Suprapto.
Ia menegaskan, setiap kecelakaan kerja seharusnya diikuti dengan penghentian sementara aktivitas operasional hingga proses investigasi dinyatakan tuntas. Namun, dalam praktiknya, kegiatan produksi kerap tetap berjalan.
“Selama negara tidak bersikap tegas, nyawa pekerja akan terus menjadi korban. Sanksi tidak boleh hanya menyasar aspek teknis atau pekerja di lapangan, tetapi harus diarahkan kepada manajemen perusahaan yang mengambil keputusan,” tegasnya. [red]









