MEDAN, DURASI.co.id – Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan bahwa pembangunan Kota Medan tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan komunitas keagamaan.
Oleh karena itu, Rico Waas mengajak jemaat GPIB Immanuel untuk terlibat langsung dalam menyukseskan program Pemerintah Kota Medan, mulai dari kebersihan lingkungan hingga penyaluran bantuan sosial PKH Medan Makmur agar tepat sasaran bagi warga lanjut usia dan penyandang disabilitas.
Hal ini disampaikan Wali Kota Medan Rico Waas saat menerima kehadiran pengurus GPIB Immanuel yang dipimpin Pdt Salmon Lea Timea di Balai Kota Medan, Selasa (7/4/2026). Pertemuan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi sekaligus perkenalan Pdt. Salmon Lea Timea sebagai pendeta baru GPIB Immanuel.
Rico Waas menjelaskan bahwa keterlibatan gereja sangat krusial dalam menyukseskan berbagai program sosial dan lingkungan yang sedang digalakkan oleh Pemerintah Kota Medan.
Menurut Rico Waas, banyak program yang dapat disinergikan antara Pemerintah Kota Medan dan pihak gereja. Salah satunya melalui Dinas Lingkungan Hidup dengan gerakan ASRI (Aksi Bersih dan Lestari) yang mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Gerakan bersih-bersih lingkungan ini dapat kita lakukan bersama sehingga dampaknya lebih luas dan berkelanjutan,” kata Rico Waas didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Benny Sinomba Siregar, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Wandro Malau, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Melvi Marlabayana.
Di sektor sosial, Rico Waas juga menyoroti program PKH Medan Makmur yang bersumber dari APBD dan diperuntukkan bagi lanjut usia serta penyandang disabilitas. Melalui program ini, penerima manfaat mendapatkan bantuan sebesar Rp200 ribu per bulan. Ia berharap peran GPIB Immanuel dapat membantu memastikan program tersebut tepat sasaran dan berjalan optimal.
“Program ini tentu dapat kita kolaborasikan agar penyalurannya lebih efektif dan benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan,” jelas Rico Waas.
Selain itu, Rico Waas turut menyinggung kondisi gereja sebagai bangunan cagar budaya. Ia memastikan bahwa Pemerintah Kota Medan memiliki program untuk membantu renovasi rumah ibadah, termasuk gereja, guna menjaga nilai sejarah dan fungsinya bagi masyarakat.
“Untuk kebutuhan renovasi, Pemerintah Kota Medan siap membantu melalui program yang ada,” ungkapnya.
Selanjutnya, Rico Waas membuka ruang komunikasi seluas-luasnya bagi masyarakat, termasuk pihak gereja, untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan.
“Jika ada permasalahan di masyarakat, silakan disampaikan. Nanti kita cari solusi bersama,” tegas Rico Waas.
Sebelumnya, Pendeta GPIB Immanuel Medan, Pdt Salmon Lea Timea, menyampaikan bahwa dirinya baru sekitar dua bulan bertugas di Kota Medan setelah sebelumnya melayani di Kota Padang.
Selain memperkenalkan diri, Pdt Salmon menyampaikan keinginan kuat GPIB Immanuel Medan untuk turut mendukung program-program Pemerintah Kota Medan. Salah satunya melalui inisiatif baru bertajuk Gerakan Peduli Immanuel Berbagi.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada kegiatan internal gereja, tetapi juga menyasar masyarakat luas melalui aksi nyata, seperti kegiatan sosial, penguatan toleransi antarumat beragama, serta kepedulian terhadap lingkungan.
“Kami ingin GPIB Immanuel tidak hanya dikenal sebagai gereja, tetapi juga sebagai sahabat bagi masyarakat. Kami ingin hadir melalui aksi toleransi dan aksi lingkungan yang bahkan sudah kami mulai sejak bulan Ramadan,” ujarnya.
Pdt. Salmon juga berharap dukungan dari Wali Kota Medan agar program-program yang dijalankan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Kami ingin mengetahui apa yang dapat kami lakukan untuk masyarakat. Dengan senang hati kami siap terlibat dan berkontribusi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Pdt Salmon menjelaskan bahwa GPIB merupakan sinode gereja yang telah tersebar di 26 provinsi di Indonesia dengan 16 jemaat besar, termasuk di Kota Medan.
Dalam audiensi tersebut, ia juga menyinggung kondisi bangunan GPIB Immanuel Medan yang merupakan cagar budaya. Menurutnya, sejak pertama kali datang, terdapat sejumlah bagian bangunan yang mengalami kerusakan dan cukup memprihatinkan. [Nababan]







