TPQ Al-Muqorrobbin Pesalakan Luput dari Perhatian, Ratusan Santri Belajar Mengaji di Teras Rumah Warga

Para santri TPQ Al-Muqorrobbin Dusun Pesalakan, Desa Pegongsoran mengaji di teras rumah warga, Jumat (25/4/25). Foto: Alwi-Durasi.co.id

PEMALANG, DURASI.co.id – Perjuangan seorang Kepala TPQ Al-Muqorrobbin di Dusun Pesalakan, Desa Pegongsoran, Ustazah Erna Widyawati, patut diapresiasi. Ia mengungkapkan bahwa dirinya bersama orang tua dan keluarga besar telah mengelola TPQ tersebut sejak tahun 2016 dengan metode Iqra’.

“Pada awal tahun 2017, TPQ Al-Muqorrobbin beralih ke metode Qira’ati,” ungkap Erna saat ditemui DURASI.co.id di sela-sela aktivitas mengajar para santri di Dusun Pesalakan, Jumat (25/4/2025) sore.

Lebih lanjut, Erna mengatakan bahwa untuk mengikuti metode Qira’ati, para pengajar harus dibina terlebih dahulu. Ia pun menyampaikan bahwa seluruh guru TPQ Al-Muqorrobbin telah melalui pembinaan di daerah Gombong.

TPQ Al-Muqorrobbin resmi menggunakan metode Qira’ati sejak 9 Oktober 2017, yang diresmikan oleh Pemerintah Desa Pegongsoran dan Korcam Pemalang.

Awalnya, pada tahun 2016, TPQ ini hanya memiliki satu guru. Namun, kini telah berkembang menjadi delapan orang. Erna mengakui bahwa pada awal berdirinya TPQ, para santri tidak dipungut biaya maupun infak, karena khawatir memberatkan para orang tua.

Baca Juga :  Penyerahan Santunan, Gaji dan Asuransi Dari PT Mutiara Jasa Bahari Kepada Pihak Ahli Waris ABK

“Kemudian, pada tahun 2017, jumlah guru menjadi tiga orang. Untuk honor guru, saya berikan dari dana pribadi, sebesar Rp25.000 per bulan,” terangnya.

Termasuk dalam berbagai kegiatan program Korcam, seluruh pendanaannya masih ditanggung sendiri oleh Erna. Baru pada tahun 2018, mulai dikenakan SPP atau infak sebesar Rp5.000 per bulan per santri.

“Lalu pada 2019 naik menjadi Rp10.000, dan pada 2021 menjadi Rp20.000 karena jumlah guru bertambah,” ujarnya.

Seiring bertambahnya kebutuhan dan pembangunan gedung sendiri, pada awal 2025 diputuskan bahwa SPP menjadi Rp25.000 per bulan.

Erna kembali mengungkapkan bahwa jumlah santri saat ini mencapai 150 orang, dengan sembilan guru aktif. Ia mengakui bahwa penghasilan guru hanya berasal dari SPP para santri. Jika terjadi kekurangan, ia menutupinya dengan dana pribadi.

Baca Juga :  Ratusan Santri Semarakkan Karnaval Sambut Ramadan 1447 Hijriah di Surakarta

“Kan tidak semua santri bayar penuh, kadang ada yang bayarnya setahun sekali,” kata Erna.

Erna juga mengakui bahwa tanah tempat berdirinya TPQ Al-Muqorrobbin belum diwakafkan secara resmi. Ia mengatakan bahwa tanah tersebut masih milik Perhutani. Ia pun baru mengetahui hal itu setelah pembangunan berjalan, dan membangun TPQ tersebut dengan biaya yang tidak sedikit.

“Kalau mau dibubarkan, saya juga tidak tega kepada para santri. Begitu juga dengan warga dan para hamba Allah yang selama ini telah banyak membantu,” ujarnya.

Menurutnya, ada sebagian wali santri dan donatur dari luar yang turut berkontribusi dalam pembangunan gedung TPQ.

Selain masalah gedung, Erna juga mengungkapkan masih banyak kendala lain dalam pengelolaan TPQ, termasuk akses jalan menuju lokasi TPQ yang masih merupakan milik pribadi.

Baca Juga :  Bupati Mansur Sampaikan Capaian Prestasi saat Sidang Paripurna Hari Jadi Kabupaten Pemalang ke-449

Motivasi utama Ernawati dalam mengelola TPQ ini adalah pengalaman pribadinya yang sulit mengaji saat kecil.

“Saya prihatin dengan Dusun Pesalakan. Kalau di desa atau dusun lain ada TPQ, di dusun saya dulu tidak ada,” bebernya.

Ia berharap pemerintah daerah maupun pihak Perhutani tidak hanya melihat status gedung TPQ Al-Muqorrobbin.

“Di sini masih dipandang sebelah mata karena belum legal. Tapi saya tidak putus semangat, karena Allah Maha Kaya,” tandasnya.

Penulis: Alwi/Prapto
Editor: Indra