BANDA ACEH, DURASI.co.id – Fokus pada upaya pemulihan pascabencana. Warga Aceh saat ini memang sedang sedih, kecewa, menderita, dan marah akibat tekanan psikologis pascabencana banjir dan tanah longsor. Namun, warga diharapkan tetap waspada dan tidak mau diprovokasi untuk masuk ke urusan politik oleh pihak-pihak yang sengaja memancing di air keruh.
Warga diminta tetap fokus pada upaya pemulihan, saling mendukung antarwarga dan korban, serta bersatu untuk mengusahakan pemulihan segera agar kehidupan dapat kembali berjalan normal.
Hal itu disampaikan oleh Wiratmadinata, akademisi sekaligus mantan Sekretaris Jenderal Forum LSM Aceh serta mantan Ketua Badan Pengurus Koalisi NGO-HAM Aceh, Sabtu (27/12/2025).
Menurutnya, saat ini terdapat upaya dari kelompok tertentu yang ingin memanfaatkan kerawanan psikologis warga korban bencana.
“Tujuannya untuk menggeser isu sosial ini menjadi isu politik, agar terkesan orang Aceh ingin kembali memberontak karena pemerintah tidak mau menetapkan status bencana nasional,” kata Wira, yang juga alumni Lemhanas Taplai Tahun 2008.
Hal tersebut disampaikan Wira merujuk pada peristiwa kericuhan antara aparat TNI dan warga pendemo yang membawa bendera “bulan bintang”, yang selama ini dikenal sebagai bendera GAM (Gerakan Aceh Merdeka), pada 25 Desember lalu. Dalam unjuk rasa tersebut terjadi kekerasan fisik yang mengakibatkan beberapa warga terluka.
Menurut Wiratmadinata, peristiwa yang terjadi di Aceh Utara beberapa hari lalu seharusnya dapat diantisipasi oleh kalangan intelijen. Ia menyoroti bahwa jika upaya deteksi dini terhadap situasi dan kondisi yang berpotensi konflik dilakukan dengan baik, unjuk rasa dengan membawa bendera tersebut tidak perlu terjadi.
“Ini jelas kebobolan. Masak ada pergerakan massa dengan kendaraan seperti itu tidak segera diantisipasi,” kata Wira.
Ia melanjutkan, setidaknya jika deteksi dini dilakukan dengan baik oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) sebagai organ Pemerintah Aceh terkait, Gubernur Muzakir Manaf tidak akan kecolongan.
“Dengan adanya laporan dari Kesbangpol, gubernur dapat melakukan antisipasi bersama Forkopimda. Belum lagi laporan dari BIN, BAIS, dan lembaga lainnya,” kata Wiratmadinata, yang juga alumni Conflict Management Advance Course, University of Maryland, Amerika Serikat.
Menurut Wira, saat ini terdapat kelompok yang ingin memanfaatkan bencana untuk membangkitkan kembali sentimen perlawanan masa lalu. Momentumnya adalah belum maksimalnya penanganan terhadap korban bencana, khususnya di daerah yang paling terdampak, seperti Pidie Jaya, Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tamiang, serta Dataran Tinggi Gayo (Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues).
“Seharusnya, Pemerintah Aceh melalui Kesbangpol mulai melakukan kampanye agar warga fokus mengurus diri sendiri, keluarga, tetangga, dan komunitas terdekat melalui aksi “warga bantu korban” atau “korban bantu korban”. Pada saat yang sama, masyarakat juga diajak waspada dan menolak semua ajakan yang berbau politik, seperti unjuk rasa dengan membawa bendera-bendera terlarang. Ini sensitif dan sekaligus rawan terjadinya provokasi kekerasan. Buktinya sudah kita lihat sendiri, bukan?” ungkap Wiratmadinata.
Di sisi lain, Wiratmadinata juga memberi masukan kepada aparat keamanan agar melakukan penanganan secara terukur jika kejadian seperti di Aceh Utara kembali terjadi. Aparat bersenjata dilarang bertindak berlebihan dalam menghadapi unjuk rasa dan kegiatan sejenis.
Wira mengakui bahwa membawa bendera GAM merupakan hal yang sensitif, terlebih ketika berhadapan dengan aparat bersenjata yang memiliki memori kelam terhadap simbol-simbol perlawanan tersebut.
“Saya menganggap wajar jika banyak warga merasa kecewa dan marah, apalagi bagi korban banjir dan longsor yang kehilangan rumah serta seluruh harta bendanya, tetapi hingga satu bulan pascabencana nasibnya masih belum jelas. Saya pribadi juga sedih, marah, dan kecewa. Namun, mari kita tidak memperburuk keadaan dengan ikut-ikutan dalam aksi politik yang tidak jelas agendanya. Yang akan diuntungkan nantinya adalah para provokator, baik di level elite politik maupun di lapangan,” katanya. [Aliman]








