BATAM, DURASI.co.id – Pencemaran limbah minyak hitam terjadi di sepanjang kawasan objek wisata Kampung Melayu, Nongsa, Batam, Kepri. Hingga hari ini, sedikitnya dua ton limbah yang berhasil diangkat dari bibir pantai Kampung Melayu Nongsa.
Menanggapi peristiwa ini, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas meminta pemerintah memberikan sanksi tegas kepada perusahaan yang terbukti mencemari laut Kepulauan Riau dengan limbah minyak. Sebab, hal ini telah terjadi berulangkali.
“Untuk itu pemerintah hendaknya meminta pertanggungjawaban kepada pihak perusahaan yang telah mencemari lautan tersebut dan memberi mereka hukuman yang setimpal karena akibat dari tindakan mereka,” ujarnya, Jumat (5/5) lalu.
Anwar mengatakan, adanya pencemaran limbah minyak tersebut akan mengganggu ekosistem laut, ada banyak ikan dan biota laut akan mati dan berdampak pada kehidupan nelayan. Karenanya, maka pemerintah juga dia minta untuk memberikan kompensasi kepada nelayan agar mereka tetap bisa memberikan nafkah kepada keluarganya.
“Sebab kalau tidak ada kompensasi, maka para nelayan tersebut tentu akan mengalami kesulitan dalam menafkahi dan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya,” tutur Anwar.
Lebih lanjut, Anwar mengatakan telah mendapat laporan dari sekitar 100-150 nelayan yang tergabung dalam 11 kelompok di kawasan pencemaran minyak terdampak. Mereka tak bisa melaut karena kondisi pencemaran tersebut.
“Kalaupun mereka melaut maka hasil tangkapannya jelas akan sangat sedikit akibat dari adanya limbah minyak berwarna hitam pekat bertebaran,” ujarnya.
Berdasarkan pengamatan KSOP Batam, limbah diduga akibat kebakaran Kapal MT Pablo destinasi Cina-Singapura dengan kapal berbendera Gabon di Perairan Malaysia, Senin (1/5/2023) lalu.
Sebagai tindak lanjut, Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolairud) Polda Kepulauan Riau (Kepri) bersama KSOP Kelas I Batam tengah melakukan penyelidikan. (Yogi)









