Viral “Aura Farming”, Tarian Anak Coki Pacu Jalur Jadi Simbol Baru Semangat Tradisi Kuansing

Para atlet dayung Jalur Keramat Sati Panggogar Alam asal Pulau Komang, Kecamatan Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, tengah berlatih jelang kejuaraan nasional di Tepian Narosa, Teluk Kuantan. (Foto: M Alhisyam/FB)

KUANSING, DURASI.co.id – Sebuah tren tak terduga muncul dari tengah riak Sungai Kuantan. Bukan hanya pacuan perahu panjang yang mencuri perhatian, tapi sosok mungil di ujung jalur, anak kecil yang menari lincah dengan ekspresi penuh semangat. Gerakan spontan itu kini viral di media sosial sebagai “Aura Farming”, dan menjadi daya tarik baru dalam tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.

Lebih dari sekadar lomba mendayung, Pacu Jalur adalah perayaan warisan budaya masyarakat Kuansing yang penuh nilai gotong royong, sejarah, dan estetika. Di balik kekompakan ratusan pendayung, keberadaan “tukang tari”, biasanya anak-anak yang disebut anak coki jadi elemen yang menghidupkan jalur dan menyemarakkan perlombaan.

Baca Juga :  Jemaah Haji Riau Diberangkatkan 3 Mei Lewat Embarkasi Batam

“Tarian anak coki itu gerakan spontan. Ketika dia mulai menari, itu pertanda timnya unggul di lintasan. Penonton bersorak, semangat tim bangkit,” ujar Raja Muhammad Deprian, pelatih tim Putri Anggun Sibiran Tulang dari Banjar Padang, Kecamatan Kuantan Mudik.

Anak coki dari timnya, kata Raja Muhammad Deprian, baru berusia 9 tahun namun sudah piawai menari di ujung perahu.

Fenomena “Aura Farming” yang menggambarkan selebrasi khas anak coki ini bahkan menyebar luas hingga mancanegara. Video gerakan tarian yang disebut-sebut mirip aksi selebrasi pemain PSG atau maskot AC Milan ramai di platform digital. Bagi warga Kuansing, ini adalah bukti bahwa budaya lokal punya daya tarik universal.

Baca Juga :  Ratusan HP Ilegal dari Batam Disita Polres Inhil

“Gerakan ini viral hingga ke luar negeri. Kami senang karena ini promosi yang bagus untuk Pacu Jalur dan daerah kami,” kata Deprian.

Senada dengan itu, M Alhisyam, warga Pulau Komang Sentajo, menyebut tren ini membawa semangat baru bagi tim-tim peserta. “Aura Farming” dianggap bukan sekadar gaya, tetapi bentuk ekspresi kemenangan dan harapan, sekaligus dorongan bagi seluruh jalur untuk tampil maksimal dalam even puncak yang akan digelar 23–26 Agustus mendatang.

“Setiap jalur dibuat dengan doa dan semangat leluhur. Jadi saat tampil, bukan hanya cepat, tapi juga membawa berkah dan hiburan,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Riau, Roni Rakhmat, menyambut positif tren viral ini. Menurutnya, Pacu Jalur kini tidak hanya jadi kebanggaan daerah tapi juga aset pariwisata nasional.

Baca Juga :  Kapolda Riau Ajak Keluarga Besar IKSS Dukung Program Riau Unggul

“Pacu Jalur adalah simbol kekuatan, kekompakan, dan identitas masyarakat Kuansing. Fenomena viral ini menjadi momentum untuk meningkatkan kunjungan wisata sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya sendiri,” jelasnya.

Dengan panjang perahu mencapai 25 hingga 40 meter dan awak hingga 60 orang, setiap jalur tampil bak orkestra yang digerakkan oleh semangat bersama. Di ujungnya, anak coki menari bukan hanya menandai kemenangan, tetapi juga merayakan hidup dalam bingkai tradisi yang terus relevan di tengah dunia modern. [yen]