Opini  

Pungli Itu Haram, Tegasnya

Redaksi Durasi
Aliman Oemar. (Foto: Dok Narasumber)

Penulis: Aliman Oemar

HARI ini, 28 Oktober 2026, hampir seluruh rakyat Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026.

Menjelang satu abad, hari ketika pemuda dan pemudi Indonesia menunjukkan integritas, identitas, serta ikrar bahwa:

Kami putra putri Indonesia mengaku

Bertanah air satu,

Berbangsa satu,

Berbahasa satu,

Indonesia.

Ikrar itu pasti diperingati di seluruh pelosok negeri.

Substansi peringatan tidak hanya sebatas mengenang bahwa pemuda dan pemudi Indonesia itu nyata, ada, dan pernah serta selalu berhasil menegakkan panji kepemudaannya di Nusantara Indonesia.

Pemuda dari desa-desa dan kota-kota besar di Indonesia terpatri oleh perjuangan terdahulu. Pemuda dan pemudilah yang terus berjuang dengan semangat dan prinsipnya sehingga Indonesia ada.

Seharusnya kita bangga dengan kalimat, “Terima kasih, pemuda dan pemudi Indonesia.”

Di berbagai pelosok negeri tercinta, Indonesia, ribuan pemuda dan pemudi telah menggoreskan tinta emas kebanggaan.

Pemuda dan pemudi Indonesia telah membuktikan semangat dan sikap patriotismenya bahwa peradaban ke depan memang milik pemuda dan pemudi Indonesia.

Baca Juga :  Dukungan Terus Mengalir, Ketua PWI Banten Rian Nopandra Dinilai Sosok yang Memiliki Koneksi Emosional Kuat

Di Provinsi Lampung, gubernur adalah pemuda Indonesia yang berhasil menempatkan dirinya sebagai pemimpin muda yang berintegritas dan berdedikasi dalam memperjuangkan daerahnya, Sang Bumi Ruwa Jurai, agar menjadi yang terdepan dalam berbagai hal.

Wakil Gubernur Lampung juga merupakan bagian dari generasi muda Indonesia. Dengan kiprah dan perjuangannya bersama Gubernur Lampung, keduanya menjadi dwitunggal yang menunjukkan kehebatan pemuda Indonesia, khususnya di Provinsi Lampung.

Pada kenyataannya, pemuda dan pemudi Lampung mampu mengisi ruang kosong yang menjadi milik mereka.

Di salah satu kabupaten di Provinsi Lampung, yakni Lampung Timur, penulis mengenal seorang sosok yang rendah hati (humble), tenang, dan penuh percaya diri.

Saat itu, beliau menjabat salah satu posisi penting dalam pemerintahan Kabupaten Lampung Timur.

Penulis mengenal sosoknya yang sangat sederhana, bahkan sedikit pemalu ketika memperkenalkan dirinya.

“Saya Marsan,” ujarnya.

“Sekarang dipercaya sebagai pembantu bupati Lampung Timur. Doakan ya, Bang.”

Pernyataan itu menjadi gambaran nyata bahwa penulis sedang berhadapan dengan pejabat yang berintegritas dan rendah hati, gumam penulis.

Baca Juga :  Hijriah dan Diplomasi Pembebasan Palestina: Saatnya RI Memimpin Suara Moral Dunia Islam

Di kedai makanan sederhana itulah penulis mengenalnya.

Tidak ada gambaran mobil mewah di warung tersebut. Hanya sedikit pengunjung siang itu.

“Saya terbiasa makan di sini.”

Di warung sederhana ini, rupanya sosok tersebut biasanya menikmati makan siang. Harganya pun terjangkau bagi masyarakat kalangan bawah, ungkapnya di sela-sela kami menikmati hidangan dari pemilik warung.

Penulis sempat bertanya, “Kenapa kok selalu tampak makan siang di sini?”

Lalu, beliau menjawab singkat.

“Di sini lidah saya cocok, juga kantong saya cocok,” ungkapnya singkat tanpa ekspresi yang dibuat-buat.

“Kita ini kan tahu, Bang, berapa pendapatan seorang PNS. Kalau makan di restoran besar, mana cukup? Kita punya keluarga yang membutuhkan biaya. Jadi, harus pandai mengatur pendapatan kita,” ujarnya kepada penulis.

Jujur, dalam hati, penulis membenarkan pernyataan sang bapak.

Suasana obrolan menjadi sangat hangat, membahas berbagai hal. Cengkerama berlangsung tanpa batas dan cenderung menjadi gambaran kepribadian sang pejabat yang menyebut dirinya hanya sebagai pembantu bupati.

Baca Juga :  Perlunya Rancangan Pola Pendidikan Karakter

Hingga akhirnya, penulis tertegun dan jujur berdecak kagum mendengar pernyataannya.

“Bagi saya, pungli itu haram,” tegasnya.

Sebuah pernyataan yang mengharu biru penulis. Pernyataan itu menunjukkan bahwa negeri ini masih menyisakan seseorang yang amanah, berintegritas, dan berani menegaskan kebenaran hakiki.

Di tengah berbagai trik dan kolaborasi di berbagai bidang kehidupan, sosok yang menginspirasi penulis adalah ketegasannya dalam menyikapi suatu hal.

Kini, beliau tidak lagi berada di tempat yang sama, tetapi integritas dan kepekaan moralnya akan menjadi teladan yang baik.

Saat ini, beliau telah dipercaya oleh bupati sebagai pembantu bupati bidang kepemudaan Kabupaten Lampung Timur.

Hal itu justru menambah perannya agar semakin nyata dalam menjadikan pemuda dan pemudi Lampung Timur semakin berintegritas, berwawasan kedaerahan, dan tidak takut akan kebenaran.

Saat inilah sang pembantu bupati harus menjadi pemegang tonggak terdepan dalam menjadikan pemuda dan pemudi Lampung Timur sebagai putra-putri yang hebat dan amanah.

Waktu yang akan menjawab semuanya.

Tetaplah semangat, Pak Marsan.