Oleh: Alsya Rezkya Musrifin
BUDAYA membandingkan diri (social comparison) kini menjadi isu yang semakin mendesak karena memengaruhi kesehatan mental dan kepercayaan diri Generasi Z. Tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Gen Z terus-menerus terpapar dinamika media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter). Paparan visual yang masif ini mendorong mereka, secara tidak sadar, mengukur standar keberhasilan, penampilan, dan gaya hidup pribadi berdasarkan potongan kehidupan orang lain.
Media Sosial dan Tekanan Sosial sebagai Pemicu Utama
Media sosial memainkan peran sentral dalam menyuburkan kebiasaan yang tidak sehat ini. Fitur bawaan seperti jumlah likes, views, dan followers kerap bergeser fungsi dari sekadar penanda keterlibatan menjadi tolok ukur nilai diri (self-worth) seseorang. Padahal, konten yang muncul di linimasa umumnya merupakan highlight reel, yakni sisi terbaik yang telah dikurasi dan tidak mencerminkan realitas secara utuh.
Selain faktor platform digital, tekanan dari lingkungan sekitar, seperti keluarga dan teman sebaya, turut memperparah kondisi ini. Pencapaian akademik dan kecepatan meniti karier masih sering dijadikan indikator tunggal kesuksesan. Akibatnya, muncul kebingungan identitas dan desakan terus-menerus untuk selalu terlihat “berhasil”. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu gangguan kecemasan, menurunkan rasa percaya diri, hingga menyebabkan imposter syndrome, yaitu perasaan asing dan tidak pantas atas pencapaian diri sendiri.
Perspektif Komparasi Sehat vs. Comparison Trap
Membandingkan diri sebenarnya tidak selalu berdampak destruktif apabila disikapi secara bijak. Keberhasilan orang lain dapat menjadi bahan bakar motivasi dan inspirasi untuk terus berkembang melalui upward comparison yang positif. Masalah utamanya bukan terletak pada tindakan membandingkan diri itu sendiri, melainkan pada kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan (compulsive comparison) tanpa mempertimbangkan perbedaan latar belakang, titik awal, dan kondisi nyata setiap individu.
Solusi Konkret: Digital Detox dan Support System
Untuk keluar dari jebakan tersebut, Gen Z perlu mengambil kendali atas konsumsi digital mereka. Penerapan literasi digital yang kritis dan pembatasan waktu layar melalui digital detox secara berkala dapat membantu meredam rasa ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Di sisi lain, keberadaan support system yang inklusif, baik dari keluarga maupun jejaring pertemanan, sangat penting agar Gen Z memiliki ruang aman untuk menyuarakan tekanan sosial tanpa takut dihakimi.









