BITUNG, DURASI.co.id – Harga gas melon melambung dan semakin sulit didapatkan di Bitung, membuat perayaan Tahun Baru terancam suram. Warga geram dan mendesak pemerintah serta Pertamina tidak hanya menindak tegas, tetapi juga mempidanakan pangkalan nakal serta memeriksa rumah makan yang menyalahgunakan gas bersubsidi.
Masyarakat Kota Bitung, khususnya di Kelurahan Girian Indah, kini menghadapi masalah serius. Kelangkaan gas melon semakin parah menjelang Tahun Baru, membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak hanya langka, harga gas melon pun melambung tinggi, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
“Susah sekali mencari gas sekarang. Kalaupun ada, harganya dua puluh tiga ribu sampai dua puluh lima ribu rupiah. Padahal setahu saya, harga resmi itu delapan belas ribu rupiah,” keluh seorang warga Girian Indah, Selasa (31/12/2025).
Warga menduga, kelangkaan ini disebabkan adanya pangkalan nakal yang menjual gas melon kepada kios dan rumah makan besar dengan harga tinggi dalam jumlah banyak.
“Kami lihat sendiri, ada beberapa pangkalan yang sering didatangi mobil-mobil dari rumah makan. Mereka membeli gas dalam jumlah yang tidak wajar,” ujar warga tersebut.
Dari informasi yang dihimpun, salah satu pangkalan resmi bahkan menjual gas bersubsidi dengan harga sembilan belas ribu rupiah, padahal HET yang ditetapkan hanya delapan belas ribu rupiah.
“Benar, pangkalan tersebut menjual dengan harga sembilan belas ribu rupiah per tabung,” ungkap warga tersebut.
Saat dikonfirmasi, pemilik pangkalan itu membenarkan adanya penjualan gas dengan harga sembilan belas ribu rupiah di atas HET yang telah ditentukan.
“Ya benar, saya menjual Rp19 ribu untuk mengambil keuntungan sedikit untuk saya bagikan ke supir mobil pengangkut tabung gas,” ucap pemilik pangkalan.
Alasan ini membuat warga semakin geram dan menuntut tindakan yang lebih tegas dari pemerintah. Mereka menilai, sanksi administratif saja tidak cukup untuk memberikan efek jera.
“Itu alasan yang tidak masuk akal dan sudah melanggar hukum. Kami meminta pemerintah tidak hanya menindak, tetapi juga mempidanakan pangkalan nakal yang menjual gas di atas HET,” tegas warga tersebut.
Selain itu, warga juga meminta pemerintah dan instansi terkait memeriksa rumah makan yang masih menggunakan tabung gas melon bersubsidi.
“Rumah makan besar itu seharusnya memakai gas nonsubsidi. Kenapa masih menggunakan yang bersubsidi? Ini jelas tidak adil,” ujar warga sambil menggelengkan kepala.
Kondisi ini membuat warga mempertanyakan efektivitas pengawasan yang dilakukan pemerintah dan Pertamina. Mereka menilai, lemahnya pengawasan menjadi penyebab utama terjadinya kelangkaan dan mahalnya harga gas melon di Bitung.
“Kami meminta Pemerintah Kota Bitung dan Pertamina untuk segera turun tangan melakukan inspeksi terkait penggunaan tabung gas melon bersubsidi. Kami juga meminta agar pangkalan nakal yang menjual gas bersubsidi dengan harga tinggi serta rumah makan besar yang masih menggunakan gas bersubsidi ditindak tegas, bahkan dipidanakan jika terbukti melanggar aturan,” pinta warga dengan penuh harap.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Kota Bitung maupun Pertamina. Warga berharap, aspirasi mereka segera didengar dan masalah kelangkaan serta mahalnya harga gas melon segera diatasi, serta para pelaku pelanggaran ditindak seadil-adilnya sesuai hukum yang berlaku. [Steven]








