TANJUNGPINANG, DURASI.co.id – Kebijakan penghentian sementara penjualan beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) Bulog Tanjungpinang berimbas pada perubahan jenis beras yang dijual. Saat ini, Bulog hanya menjual beras premium, termasuk dalam program operasi pasar (OP) dan gerakan pangan murah (GPM).
Padahal, beras SPHP sering menjadi pilihan utama masyarakat dalam program pasar murah atau GPM karena harganya yang lebih terjangkau dibandingkan beras lainnya.
Kepala Cabang Bulog Tanjungpinang, Arief Alhadihaq, menjelaskan bahwa biasanya Bulog memang menjual beras SPHP, namun dengan adanya kebijakan baru ini, mereka akan menggantinya dengan beras premium dalam program OP dan GPM.
“Beras premium memang lebih mahal, Rp65 ribu per lima kilogram,” ujar Arief pada Sabtu, 15 Februari 2025.
Penjualan beras SPHP dihentikan sementara mengikuti kebijakan dari pemerintah pusat melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas). Kebijakan ini bertujuan agar Bulog dapat fokus menyerap hasil panen petani, dengan target tiga juta ton beras hingga 30 April 2025.
Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan untuk menstabilkan harga gabah kering di tingkat petani, agar mereka bisa mendapatkan harga terbaik selama musim panen. Saat ini, Bulog fokus pada pengadaan beras dalam negeri, dengan stok beras premium mencapai 20 ton.
“Tujuannya untuk mewujudkan program swasembada pangan,” kata Arief.
Arief juga mengungkapkan bahwa stok beras SPHP di gudang Bulog Tanjungpinang masih ada sekitar 1.400 ton, yang saat ini menjadi cadangan beras pemerintah (CBP). Cadangan ini bisa digunakan untuk bantuan sosial, SPHP, atau bantuan dalam situasi bencana.
Dia juga mengakui bahwa penghentian distribusi beras SPHP bisa memengaruhi harga beras di pasar Kota Tanjungpinang. Biasanya, penyerapan beras SPHP di wilayah Bulog Tanjungpinang mencapai sekitar 400 ton per bulan.
“Tapi kita lihat ke depan, apakah ini akan berpengaruh pada inflasi atau tidak, tentunya pemerintah akan melakukan evaluasi,” katanya.
Penulis: Rudi
Editor: Indra









