ACEH TAMIANG, DURASI.co.id – Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Zulfan Zahar, menyoroti potensi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebagai solusi strategis dan berkelanjutan untuk penanganan masalah banjir yang kerap melanda wilayah Aceh Tamiang, Aceh.
Pernyataan ini disampaikan Zulfan Zahar saat menyalurkan bantuan langsung kepada korban banjir bandang di Kampung (Desa) Kanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (9/12/2025).
Zulfan Zahar menekankan bahwa PLTA tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan, tetapi juga dapat berperan ganda sebagai infrastruktur pengendali air dan pencegah bencana banjir.
“Sering kali kita hanya melihat PLTA dari sisi fungsinya sebagai pembangkit listrik. Padahal, pembangunan bendungan dan waduk yang menjadi bagian integral dari PLTA, terutama di kawasan hulu sungai, memiliki peran vital dalam tata kelola air,” ujar Zulfan Zahar.
Ia menjelaskan bahwa waduk PLTA dapat dioptimalkan untuk menahan debit air saat musim hujan ekstrem, mengatur aliran air ke hilir sehingga mengurangi risiko luapan sungai dan banjir bandang, serta menyediakan cadangan air untuk kebutuhan irigasi dan air baku saat musim kemarau.
“Untuk kasus di Aceh Tamiang, pendekatan pembangunan infrastruktur seperti bendungan PLTA harus dilihat sebagai investasi jangka panjang dalam mitigasi bencana dan ketahanan air, selain sebagai penggerak ekonomi hijau,” tuturnya.
Selain manfaat pengendalian banjir, proyek PLTA diyakini dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi perekonomian lokal dan transisi energi nasional.
Lebih lanjut, PLTA akan menambah bauran energi bersih Indonesia dan mendukung komitmen netralitas karbon (net zero emission) pada 2060. Proses pembangunan hingga operasional PLTA juga akan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat. Waduk PLTA berpotensi dikembangkan menjadi destinasi ekowisata dan menjamin pasokan air untuk sektor pertanian di sekitar wilayah tersebut.
Zulfan Zahar mendorong pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh untuk segera mengkaji dan memprioritaskan studi kelayakan proyek-proyek PLTA di kawasan hulu Tamiang dan wilayah rawan banjir lainnya.
Ia menepis berkembangnya informasi di masyarakat yang menuding PLTA sebagai bagian dari penyebab banjir.
“Bahwa selama ini berkembang berita bahwa PLTA itu bagian dari penyebab banjir, itu perlu dijelaskan kepada masyarakat dan pemerintah bahwa PLTA sebenarnya secara desain berfungsi sebagai penahan banjir, karena dengan adanya PLTA maka waduk terbentuk untuk menahan air,” jelasnya.
Zulfan menegaskan bahwa banjir ini sebenarnya disebabkan oleh penebangan hutan secara ilegal.
“Sebetulnya, secara desain, kalau PLTA berada di hulu, banjir seperti ini tidak akan terulang lagi, atau setidaknya dapat mengurangi dampaknya. Mudah-mudahan nanti Pak Gubernur bisa bersama pemerintah pusat membangun PLTA yang berfungsi khusus sebagai penahan banjir,” kata Zulfan.
Dalam kunjungannya, Zulfan meninjau langsung ke belakang Kampung Tanjung Karang untuk melihat kerusakan yang terjadi. Banyak di antaranya tumpukan gelondongan kayu besar yang menghantam rumah-rumah warga.
Terkait masalah pemadaman listrik di Aceh, ia menjelaskan bahwa salah satu pembina METI adalah Direktur Utama PLN yang juga merupakan anggota dewan penasihat METI. PLN juga merupakan anggota METI. Karena itu, saat banjir terjadi, pihaknya secara intens berkomunikasi dengan PLN mengenai pemulihan kondisi kelistrikan di Aceh.
“Memang ada kesalahan dalam perhitungan oleh PLN. Tadinya diperkirakan pada Minggu malam sudah 93 persen sistem dapat kembali hidup. Kami sudah berkomunikasi dengan PLN, dan insyaallah dalam dua hingga tiga hari ke depan sudah normal kembali,” ungkap Zulfan.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa sinergi antara pemanfaatan energi terbarukan dan upaya mitigasi bencana adalah sebuah keniscayaan.
“PLTA merupakan contoh konkret bagaimana solusi multi-guna dapat diciptakan untuk menjawab tantangan lingkungan dan energi di Indonesia,” tukasnya.
Penulis: Andre
Editor: Indra







