ACEH TAMIANG, DURASI.co.id – Gelaran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-45 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) tahun 2025 berlangsung meriah di BSCC Dome Balikpapan. Ribuan pelaku UMKM dan perajin dari seluruh Indonesia, termasuk Kabupaten Aceh Tamiang, ambil bagian dalam pembukaan Pameran Expo 2025 tersebut.
Namun, ada pemandangan menarik di anjungan pameran Aceh Tamiang. Terlihat para pengunjung terpesona dengan kain tenun songket, kerajinan khas asli dari Bumi Muda Sedia.
Tenun songket “Lindung Bulan” asal Aceh Tamiang pun menjadi primadona pengunjung di acara tersebut. Para penjaga anjungan sibuk memenuhi permintaan, mulai dari menjawab pertanyaan pengunjung, melayani foto motif, hingga menerima pesanan para pembeli.
Tenun songket khas Aceh Tamiang ini memiliki daya pikat tersendiri. Apalagi, motifnya telah dipatenkan sebagai kekayaan komunal Aceh Tamiang pada tahun 2021.
Tenun songket bukan hanya sekadar menjadi pakaian, tetapi juga ciri khas budaya dan cenderamata produk kreatif yang bernilai ekonomi tinggi.
Ketua Dekranasda Aceh Tamiang, Yuyun Armia, tak bisa menyembunyikan rasa gembiranya. Ia menyebut antusiasme pengunjung menjadi sinyal baik bahwa peluang pasar untuk kerajinan dan produk unggulan Aceh Tamiang sangat terbuka.
“Alhamdulillah, ini menjadi motivasi bagi para perajin Tamiang untuk terus berkarya. Kita ingin kerajinan Tamiang semakin dikenal dan membawa manfaat bagi ekonomi perajin,” ujarnya melalui pesan teks aplikasi perpesanan pada Kamis (10/9/2025) malam.
Disebutkan Yuyun, satu lembar kain songket bertenun khas Aceh Tamiang itu dihargai mulai dari Rp800 ribu hingga Rp2 juta.
“Kain songket Lindung Bulan yang paling digemari ialah motif Pucuk Rebung,” katanya menimpali.
Tak hanya tenun, jilbab bermotif khas Aceh Tamiang juga laris diminati pengunjung. Diakui Yuyun, produk unggulan yang dibawanya itu membuat anjungan pameran Dekranasda Aceh Tamiang ramai sejak pagi hingga sore. Kerajinan dari lidi sawit pun menjadi primadona, menampilkan sentuhan tangan kreatif para perajin Bumi Muda Sedia yang memadukan keindahan dan fungsi dalam satu karya.
Dalam kesempatan ini, Yuyun menjelaskan bahwa Aceh Tamiang telah memiliki 25 motif tenun yang terdaftar sebagai hak kekayaan intelektual daerah.
“Saat ini, Aceh Tamiang telah memiliki 25 motif tenun songket khas daerah yang telah dipatenkan. Dalam aspek pemasaran, kain songket tenun khas Aceh Tamiang yang dinamai Lindung Bulan ini sudah memiliki pasar, tetapi produksinya masih terbatas,” ujarnya.
Hingga saat ini, anjungan Aceh Tamiang telah dikunjungi sejumlah pejabat pemerintahan dan anggota DPR RI yang memberikan apresiasi atas kualitas kerajinan lokal yang ditampilkan.
Dekranasda Aceh Tamiang berharap momentum pameran ini menjadi pintu pembuka bagi kerajinan dan produk unggulan lokal untuk menembus pasar yang lebih luas, membawa nama baik daerah, sekaligus menguatkan ekonomi para perajin di Bumi Muda Sedia. [Andre]









