PEKANBARU, DURASI.co.id – Galeri Seni Rupa Hang Nadim merayakan lima tahun eksistensinya dengan menggelar pameran ke-17, yang kali ini menampilkan karya seni rupa kontemporer bertajuk Khat Melayu Gurindam 12. Pameran ini resmi dibuka pada Sabtu malam (15/2/2025) dan akan berlangsung hingga 28 Februari 2025 di Anjungan Kampar, Bandar Seni Raja Ali Haji, Pekanbaru. Sebanyak 26 seniman dan kaligrafer terlibat dalam pameran yang mengangkat kaligrafi Arab Melayu ini.
Mereka yang berpartisipasi, termasuk peserta pameran undangan, yaitu dua kaligrafer senior Abdul Latif Hasyim dan Mukhtamar, serta Alza Adrizon. Kaligrafer atau seniman lainnya yang memamerkan karyanya antara lain Adie Nata, Herman Pelani, Dewi Hariyanti, Ulul Azmi, Firza Jurdila, Opi Prastanti, Nesa Aqila, Raditya Mohamad, Puji Lestari, Fitri Sun, Parlindungan Ravelino, dan M. Fathsul Akbar.
Kemudian, Tengku Eko, Wirdatul Barokah, Dicky Reza Aryadinata, Firda Zulhanita, Hasanah, Dewi Purwanti, Nuria Hafazhah, M. Kudri, Jupriyanto, Wahyudi HB, dan Joni. Semua karya ini dikuratori oleh Muhammad Rafles, yang secara profesional juga berkecimpung di bidang kaligrafi di LPTQ Riau.
Pameran ini dibuka oleh Ketua Harian LPTQ Riau, Zulhendri Rais. Pembukaan pameran juga dihadiri oleh Pengurus LAM Riau, Griven H. Putra, serta perwakilan Dinas Kebudayaan Riau dan Dinas Pariwisata Pekanbaru.
Ketua Galeri Hang Nadim, Furqon LW, dalam sambutan pembukaan menyampaikan dua hal yang membuatnya dan pengurus galeri lainnya begitu bahagia pada malam pembukaan pameran. Pertama, pameran ini menandai lima tahun eksistensi Galeri Hang Nadim sejak diresmikan oleh budayawan Al Azhar (alm) pada 17 Januari 2020 silam.
Selama itu pula telah ada 17 kali pameran, termasuk pameran Khat Melayu yang menjadi pameran perdana tahun ini. Furqon mengaku bahagia karena sambutan masyarakat terhadap pameran seni di Riau masih tinggi.
“Selama 16 pameran sebelumnya, kami telah mencatat lebih dari 10 ribu pengunjung. Itu tidak gratis, berbayar. Ternyata, kepedulian dan antusiasme masyarakat terhadap seni masih tinggi. Apalagi, rata-rata pengunjung juga adalah kaum milenial,” kata Furqon.
Kebahagiaan kedua, lanjut Furqon, adalah karena pada malam itu, Galeri Hang Nadim mulai menapak langkah perdananya mengusung misi yang sudah termaktub dalam visi galeri tersebut, yaitu Khat Melayu.
Secara sederhana, Khat Melayu bermakna menulis indah, kaligrafi, menggunakan huruf-huruf Arab Melayu yang merupakan ekspresi kaligrafer atau senimannya yang sumber inspirasinya berasal dari khazanah Melayu dulu maupun kekinian.
“Khat Melayu diharapkan keluar dari kaidah formal kaligrafi Arab yang muktabarah sehingga memunculkan kaidah baru dengan ciri khas individual yang tak terduga, semisal; tarikan garis atau bentuk-bentuk yang dibuat spontan. Karena keleluasaan eksplorasinya ini, kami berharap kelak Khat Melayu ini menjadi keunikan atau kekhasan seni rupa Riau,” ucapnya.
Pada kesempatan itu, ia juga mengucapkan terima kasih kepada Riau Petroleum sebagai pendukung utama pameran ini, serta kepada Yayasan An Namiroh yang kerap mendukung pameran-pameran Galeri Hang Nadim. Terima kasih juga ia sampaikan atas peran Mal Pekanbaru dalam pameran ke-17 Galeri Hang Nadim ini.
Pameran sendiri dibuka secara resmi oleh Ketua LPTQ Riau, Zulhendri Rais, sekitar pukul 21.50 WIB. Ia menilai pameran khat atau kaligrafi Arab Melayu ini sangat kompeten dengan kehadiran Muhammad Rafles sebagai kurator.
“Ini sudah sangat tepat, kurator Muhammad Rafles. Di LPTQ kami ada berbagai bidang, Rafles menggeluti bidang khat,” kata Zulhendri.
Zulhendri juga menyambut gembira pameran khat Arab Melayu ini. Sudah saatnya Arab Melayu kembali diperkenalkan dan dimasyhurkan ke seluruh dunia. Pasalnya, kata dia, bahkan orang Arab yang mempelajari khazanah Islam, ternyata juga mempelajari Arab Melayu.
“Ada salah satu percetakan tua di Mesir yang telah berdiri sejak tahun 1800-an, mereka masih mencetak buku Arab Melayu. Ternyata, ada orang Arab yang memesan kitab Arab Melayu ini. Memang beberapa kitab karangan ulama besar Indonesia berbahasa Arab Melayu,” kata dia.
Dunia, lanjut Zulhendri, hendaknya mengenali lagi Arab Melayu. Generasi muda, khususnya di Riau, juga harus diajarkan kembali Arab Melayu sekaligus diperkenalkan dengan khazanah Melayu.
“Saya terpikir, berapa pahala orang-orang di balik Galeri Hang Nadim ini. Ini kita menghidupkan khazanah Melayu, khazanah Islam. Kalau tidak kita yang menghidupkan khat Melayu, siapa lagi,” ujar alumni Al Azhar, Kairo, Mesir ini.
Pada pameran ini, puluhan karya kaligrafi Arab Melayu dipamerkan di lantai atas Anjungan Kampar di Arena Purna MTQ atau Bandar Seni Raja Ali Haji. Setiap karya menampilkan keunikan, namun memiliki satu kesamaan umum, yaitu semua kaligrafi yang dibuat adalah versi Arab Melayu dari Gurindam 12, karya sejarawan yang disebut-sebut sebagai Bapak Bahasa Indonesia, Raja Ali Haji.
Masyarakat dan kaum milenial bisa berkunjung ke ruang galeri yang sangat Instagramable ini setiap hari hingga 28 Februari mendatang. Dengan modal tak seberapa rupiah, pengunjung bisa menikmati lebih dari 20 karya seni yang tidak setiap hari bisa disaksikan.








