SERANG, DURASI.co.id – Pesantren Modern Darul Falah yang berlokasi di Desa Carenang, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang, Banten, menerapkan keseimbangan pendidikan agama dan umum bagi para santri tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Saat ini, jumlah santri di pesantren tersebut telah mencapai ribuan orang dengan didukung sekitar 120 tenaga pengajar.
Pimpinan Pondok Pesantren Modern Darul Falah, KH Syihab Al-Ma’i, yang merupakan putra dari KH Ahmad Khudlori, menjelaskan bahwa sistem pendidikan di pesantren tersebut bersifat modern, dengan menyeimbangkan ilmu agama Islam dan pengetahuan umum.
Menurutnya, akhlak menjadi aspek yang paling diutamakan dalam proses pendidikan. Selain itu, pengetahuan umum juga dinilai penting sebagai bekal santri untuk menghadapi perkembangan zaman.
“Pengetahuan umum dan agama sama-sama dibutuhkan. Di pesantren ini, kami ingin membentuk karakter santri yang disiplin, beretika, memiliki estetika, dan adab yang baik, terutama dalam menjalankan ibadah salat fardu maupun sunah,” katanya saat ditemui, Jumat (17/4/2026).
Sementara itu, Ustaz Sumarlin Jaya, tenaga pengajar bidang akidah akhlak sekaligus alumni Pesantren Modern Darul Falah angkatan 2005, mengatakan bahwa dirinya telah mengabdi di MTs hingga MA selama sekitar enam tahun.
Ia mengaku selalu menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan kesadaran kepada para santri bahwa setiap ilmu yang diperoleh harus disyukuri dan dimanfaatkan dengan baik.
“Ilmu yang kita dapatkan bukan sesuatu yang instan, tetapi melalui proses panjang. Karena itu, harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk bekal ujian dan kehidupan setelah lulus,” katanya.
Ia menambahkan, pengalamannya sebagai alumni membuat dirinya semakin mencintai almamater tempatnya menimba ilmu, sehingga memutuskan untuk kembali mengabdi di pesantren tersebut sebagai pengajar akidah akhlak.
Selain itu, ia juga kerap mengingatkan para santri agar rajin belajar dan membaca buku agar bermanfaat, baik untuk ujian maupun sebagai bekal di masa depan, baik di tingkat MTs maupun MA.
“Pernah pada pekan lalu saya menjadi panitia PPDB. Itu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan, karena ada calon siswa dengan latar belakang organisasi yang berbeda, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah,” ujarnya.
Namun demikian, ia menekankan bahwa perbedaan pandangan tidak boleh menjadi penghalang dalam menuntut ilmu. Menurutnya, para santri harus memiliki pola pikir yang maju dan tidak mudah terpengaruh perbedaan.
“Yang penting kita tetap satu sebagai umat Nabi Muhammad SAW,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa pendidikan di pesantren bertujuan membentuk tanggung jawab dan kedewasaan santri, baik dalam aspek agama maupun pengetahuan umum, sesuai dengan arahan Kementerian Agama RI. [han]
Ustaz Sumarlin Jaya: Akhlak dan Akidah Diutamakan di Pesantren Modern Darul Falah untuk MTs dan MA







